USM7uKzrSsmCaVoTHNCgNHTLw5k8mZOpxmzx7nna
Bookmark

TRANSLASI NASKAH BIMA

TRANSLITERASI NASKAH

1.2 : hal. 11 

 Hijrat an-Na bi saw . seribu dua ratus sepuluh sembilan enam tahun-tahun Zei, tahun-tahun Alif, pada delapan hari bulan Safar, hari Jumat waktu Asar, tatkala itulah Yang Dipertuan kita Sri Sul tan Abdul Hamid menggelarkan Paduka Raja Tureli Donggo berismu Abdul Nabi menjadi Raja Bicara. Maka adapun perkakas dan perhiasann ya Raja Bicara tatkala diterima itu, pertama-tama Jembing be[r]cabang empat berpondok perak , dan tombak panjang berpondok perak enam , dan lembing be [r] cabang berpondok tembaga kuning empat, dan tombak berpondok emas satu , dan seluku satu, dan baju besi dua. dan kapa k dua , dan keris panjang dua, pay ung satu, pabulekang satu, dan senapang Kompeni enam belas, dan terkeluk empat batang, dan pamoras sepasang, bendera satu , tambur satu. Demikianlah adanya.

5. Kemudian daripada sudah digelarkan Raja Bicara , maka sampailah (kepada hari) kepada hari Isnin, waktu Zuh ur, sebelas hari bulan Safar, ketika itulah Bumi Luma Bolo dan Jenaluma mBojo dan Jenamone Nae dan Bata ngGampo dan segala Nentiluma membawa segala tonda jeneli dan segala gelarang dengan adatnya. Maka sampailah kepada  balai pengadapan, lalu duduk semuanya. Maka segala gelarang tua mempersembahkan adatnya kepada Tuan kita Raja Bicara, yaitu kupang tiga belas real dan kain tiga belas helai. Syahdan maka menyembah Gelarang Rasanae serta mengatakan kata adatnya, maka Gelarang Sape kemudian, maka Gelarang Bolo kem udian . .Maka Tuan Kita bertitah kepada Bumi Luma Bolo menyuruh menjawab perkataan segala gelarang itu. Maka dijawab oleh Bumi Luma kepada satu-satu Raja Bicara perkataan gelarang yang tiga pangkat itu. Setelah sudah menjawab perkataan gelarang yang tiga pangkat itu , maka Tuan Kita menugerahi kepada segala tonda jeneli dan segala gelarang, yaitu kasa sehelai baju kepada seorang-seorang. Adapun jumlahnya enam puluh tiga helai. 

10. Kemudian maka sendiri I Tuan Kita bertitah kepada segala gelarang, "Bahwa kupohonkan kepada Allah dan rasul-Nya , jangan sekali-sekali bersalahan perkataan dan perbuatanmu yang sebagaimana yang telah sudah kamu keluarkan itu kepada adat Tanah Bima dan Tuan Kita" . Maka jika ada sesuatu titah dan perintah adat Tanah Bima yang sehari itu sehari sungguh, dan yang sebulan itu sebulan sungguh adanya. Tamat alkalam bi i-akhirul selam. Hijrat an-Nabi saw. seribu seratus enam puluh empat, tahun-tahun Dzulakhir, kepada hari Isnin, sehari bulan Zulnijah, tatkala itulah Rato Tueli Sekuru ismuhu Hidir memperanakkan seorang hamba Allah di Tanah Mengkasar, yang laki-laki ismuhu Abdul Nabi yang telah digelarkan Wazir al-Muadzam Bima serta memegang Tureli Donggo dan kadi adanya. Tamat wa katibuhu juru tulis Muhsin. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus sebelas tahun-tahun Alif, pada sehari bulan Zulhijah, pada malam Ahad, jam pukul 11, tatkala itulah Raja Paduka Sumbawa ismuhu Datuk Segiri I Dlili yang Dipertuan Kita Sri Sultan Bima 

15. ismuhu Abdul Hamid akan memperanakkan seorang lakilaki hamba Allah dinamai Ismail adanya.Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus enam tahun-tahun Ba, pada malam Selasa, jam pukul dua belas, pada lima belas hari bulan Jumadilakhir, tatkala itulah lomok Yang Dipertuan Kita Sri Sultan Abdul Hamid dinamai Tipah memperanakkan seorang perempuan hamba Allah dinamai Bale Walatola , lebih umumya adanya. Tamat. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus enam tahun-tahun Zei , pada empat hari bulan Dzulhijah, malam Selasa waktu Isa. tatkala itulah dinugerahkan Allah Taala, Saidah istri Tuan Kita Wazir al-Muadzam Abdul Nabi beranak seorang laki-laki dinamai Jampadang dan nama dirinya Ismail adanya. 

20. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus lima tahun-tahun Dzulawal , pada hari Isnin, delapan hari bulan Rajab , waktu Zuhur, dewasa itulah istri Tuan Kita Wazir al-Muadam Bima ismuhu Abdul Nabi memperanakkan seorang perempuan dinamai Salima adanya. Tamat. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus tujuh belas tahuntahun Wau, pada sebelas hari bulan Syawal, pada hari Jumat wak tu Duha , tatkal a itulah istri Tua Kita Qazir al-Muadzam bernama Jiba beranak seorang laki-laki dinamai Abdullah adanya. Tamat. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus sembilan belas tahun -tahun AliL pada sembilan belas hari bulan Syakban , .

25 . malam Juma t waktu lsya. ta tkala itulah istri Tuan / Kita Wazir al-1Vwadzam bernama Jiba beranak seorang laki-laki dinamai Jafar adanya . Tamat. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus dua puluh satu tahun-tahun Jim , pada dua likur hari bulan Jumadilawal, hari Jumat jan1 pukul 11 , tatkala ituiah istri Tuan Kita Wazir al-Muad zam bernama Habiba beranak seorang lakilaki bernama Abdul Karim adanya. Tamat. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus dua puluh lima, tahun-tahun Wau, pada enam hari bulan Muharam, hari Sabtu waktu Asar, tatkala itulah istri Tua Kita Wazir al- Muadzam ismuhu Abdul Nabi bernama Jiba beranak seorang laki-laki dinamai Abdurrahman adanya. Inti(h)a/ 

30. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus delapan, tahuntahun Ba, pada hari Ahad, delapan belas hari bulan Rajab, waktu Duha, tatkala itulah istri Tua Kita/Wazir al-Muadzam Abdul Nabi bernama Sarida beranak seorang laki-laki dinamai Sulaiman adanya. Inti[h]. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus dua puluh tahun Ha, pada delapan likur hari bulan Ramadan, hari Khamis waktu Duha, ketika itulah istri Bumi Jara Bolo Daeng Malewang Latei yang bernama Daeng Mone beranak seorang perempuan hamba Allah dinamai Jamila adanya. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus dua puluh dua tahun-tahun Zei, pada dua belas hari bulan Jumadilahir, malam Ahad jam pukul empat, ketika itulah Bumi Jara 

35. BoLi istrinya bernama Daerang Mone memperanakkan / seorang perempuan hamba Allah dinamai Zaniba adanya. Tamat. // 

1.2 : hlm. 103 dan sebagian dari hlm. 104 

1. Daripada sebab ia tiada mau mengangkat pekerjaan Tanah Bima, maka adalah Paduka Tuan Kita Wazir alMuadzam dikeluarkan kepada Kompeni, lalu dipukul denda delapan puluh real kepada l.y .n.y. itu karena pekerjaan itu telah dilarangi oleh adat Tanah Bima karena jangan nama orang Bima, meskipun orang Melayu Bugis sekalian dilarang oleh Tanah Bima membawa perkara kepada Kompeni. Syahdan pun maka barang siapa kemudian harinya orang Bima membawa perkara itu perkataan kepada kompeni, dihukum oleh istiadat Tanah Bima dengan hukum yang lebih daripada hukum yang ada istiadat dalam bab ini adanya. Hijrat an-Nabi saw. seribu dua ratus enam puluh sembilan tahun-tahun Jim, pada malam Jumat, tiga hari bulan Rabiulakhir, tatkala m.r.w. kita sebab hendak mengerjakan

5. menyunat / Paduka anakanda Tuan Kita Wazir al-Muadzam Bima ismuhu Muhammad Yakkub bin Abdul Nabi, yaitu atas perintah Paduka Tuan Kita Sri Sultan Ismail Muhammad Syah Dzilullah fi 'l Alam yang telah i'tifak bersetuan mufakatnya dengan sendiri, Paduka Tuan Kita Wazir alMuadzam mengerjakan di dalam istananya sendiri. Paduka Yang Dipertuan kita Sri Sultan nyunat Paduka anakanda Tuan Kita Wazir al-Muadzam Sikawuk yang bernama Bangkalan. Maka yang pergi mengantar dan membuang berakit itu pertama Bumi Saminat bemama La Ha dan Bumi Sarintonggu bemama Yusuf dan Anangguru Parise mBojo Muhammad Saleh memakai sigar dan gadu putih, serta dengan bininya memakai weri kuning karena dia itulah emak-bapak yang menyusu Si Kau dan Anangguru Parise Bolo bernama Usman dan segala orang Pabase, karena dia itulah memerintah segala perahu kenaikan, segala orang yang pergi itu yang bersediakan. Setelah sianglah hari Jumat berhadirlah sekalian pekakas-pekakas itu di luar subah akan berjalan menuju Sungai Romo , dihormat pasang meriam tiga kali sembilan berbunyi I pemuras sepanjang jalan dan menyanyi

10. royo perempuan yang berjabatan dengan diiringi gen dang, gong, serunai , dan tambur, didahului oleh cungkur orang Manggarai. Setelah sampai di Sungai Romo, lantas masuk dalam perahu semuanya. Orang pergi itu dihormat pasang lela sekali. Setelah itu pulang sampai di labuan Tantang Sungai, lalu berdayung menuju tanjung pantai. Setelah sampai di situ bemama Toro Bajanggiri dibuanglah rakit itu, dihormat pasang lela sekali. Setelah itu, pulang sampai di labuan Tantang Sungai Romo, dihorrnat pasang lagi lela sekali. Orang naik sekalian kembali sampai di alunalun subah, dihormat pasang meriam tiga kali adanya. Syahdan maka waktu sore-sore hari Jumat itu membawa masuk gendang bolo di dalam istana, yaitu di berogah yang disediakan memang tempatnya akan dipukulkan dan menyanyi dengan bersama-sama masuk dengan Kalero Sumi dan Kalero Wera adanya. Kemudian daripada itu, bersenang sehari pada hari Sabtu. Setelah malam Ahad, lima hari bulan dimulai berinai dengan mengambil tempat nasi dan juadah akan bermain

15 . main pada I malam itu, berkumpul masuk di dalam istana semuanya rato-rato laki-laki dan perempuan. Demikian lagi orang kepada tangan Bumi Cenggo, menari laki-laki perempuan dan menyambut siri puan kepada kampung se ndiri Paduka Tuan Kita Raj a Bicara kepada rumah tempat dibuat siri puan itu oleh imam Melayu bemama Thayeb dengan segala anak buahnya satu-satu. Sampai waktu Asa r, berhadirlah pekakas penyambut siri puan. Pertama . sepasang pebulai dililit dengan cindai tempat menarih siri puan dan dua orang anangguru tatarapang memakai sahlat merah didahului subah nae dan gendang, gong, se run ai. dan tambur. serta diiringi oleh segala orang menari laki-Jaki sampai di alun-alun siri puan Jihormat pasang meriam tiga kali . Demikianlah pekerjaan me nyambut siri puan di dalam kedua kalinya. lalu membawa naik siri itu di atas istana tempat berinai. Setelah sampai malam hari , jam pukul delap::m . berkurn pul masuk di dalam istana segala rato-rato laki-laki pere rn puan , serta dinaikkanl ah Si Kau di atas tilam kelambu ba ntal dengan memakai weri nasik / hijau. bertepi

20 . kan ernas bersigar me rah, ran tai emas berkeris tatarapang. Demikian Jagi La Ndai anak Bumi Sari Sape , dan si Karim anak Ruma Pota, dinaikkan di atas tilam kelambu bantal karena keduanya disunat pulah. Setelah hadirl ah ~e kalian pekakas-pekakas terpasang. masuk khatib keempat di tengah kedudukan , berzikir, dibaca selawat dahulu. meletakkan inai, maka dipasang meriam tujuh kali. Demikian lagi ha bis ber[m] ain, dipasang meriam tujuh kali. Setelah itu, diangkat nasi persantapan masing-masing kepada hidangannya. Setelah habis santap, berdiri orang menari, lak.i-laki berganti perempuan sehingga memakai kain sutera Jawa. Maka segala rato-rato sehingga memakai weri dan songkok Jawa dan pada tiga kalinya mengambil siri, puan-puan bersiri berhadapan anangguru tatarapang memakai sahlat merah di dalam istana berdiri berhadapan, dan berjongkok berhadapan orang Ma[ng] garai, sampai Tuan Fetor dengan anak bininya datang melihat diri larilari ramai-ramaian, kehabisan siri puan karena sekalian permainan dipermainkan sampai anak-anak I Melayu ber

25. main mencak. Setelah habis berinai tiga hari, maka bersenang pulak pada hari Selasa itu akan berhenti. Maka pada hari Arbaa, delapan hari bulan dijadikan menyunat Si Kau dan La Ndai dan La Karim. Maka dititahkan Bumi Cindai menggosok giginya Si Kau dan titahkan Bumi Ndede Emas menggosok giginya La Ndai dan La Karim, dan pukul gendang dudu bakar. Maka dihormat pasang meriam di luar subah tujuh kali. Setelah sudah pekerjaan menggosok giginya, maka dititahkan Anangguru Parise mBojo bernama Muhammad Saleh menyunat Si Kau dan dititahkan khatib tua Jamaluddin menyunat La Ndai, dititahkan khatib Hasan menyunat La Karim, serta Paduka Tuan Kita Sri Sultan pun ke luar akan menunggu dan memerintahkan pekerjaan menyunat itu, serta dihormat pasang meriam tujuh kali. Setelah habis pekerjaan menyunat, masing-masing duduk kepada tempat kedudukannya dan berkata gelarang ketiga mengatakan tanda kehibaan kepada Paduka Tuan Kita Yang Dipertuan. I Setelah habis perkataan 

30 . gelarang ketiga, memulai kiwuri segala gelarang diikuti oleh segala rato-rato dan guru-guru, bumi-bumi, dan jenajena. Dan segala orang menari dan segala Nenti mone dan dambe mone. Demikian lagi rato-rato perempuan masuk berkiwuri, menyembah kepada Paduka Tuan Kita permaisuri. Dan tersebut pakaian Si Kau tatkala itu memakai weri nae, dan pakaian Paduka Tuan Kita Sri Sultan sehingga memakai weri dan songkok Jawa, dan segala rato-rato , jeneli, tureli, Bumi Nae memakai weri dan kebabulikah, dan segala Bumi Nggeko memakai keroro satang: Setelah habis kewuri, maka turun segala rato-rato akan bercakapcakap lama mendahului bercakap Bumi Luma Rasanae, baharu diikuti oleh segala rato-rato dan guru dan segala pahlawan dan bumi-bumi dan majena-maj~na. Setelah habis bercakap, masing-masing naik duduk kepada tempat kedudukannya dan angkat orang nasi persantapan masing-masing kepada hidangannya. Setelah 

35. habis santap nasi, diangkat I lagi air panas dan juadah, maka tiada sempat perbaikan permainan sebab Paduka panas dan demam. Kemudian daripada itu, tiga hari lagi beramai-ramaian lagi, mengambil tempat nasi dan juadah. Akan tetapi, sore-sore waktu Asar masuk berkumpul segala orangorang menari, laki-laki bermain kanjar, pada malamnya menari perempuan. Setelah sampai tiga hari bermain-main yang kemudian , maka pada hari Sabtu sembilan hari bulan ditumpahkan air mandinya yang dirukap pada malam dengan gendang, gong, serunai, akan dimandikan pada siang harinya adanya. Peringatan segala dari mengadakan pada satu-satu dari seekor kerbau, sepikul beras, uang lima real; titahkan membuat juadah pada segala rato-rato dan titahkan Bumi Sumbanta dan Bumi Nana akan menunggu bermasak nasi, ikan, gulai, bersama-sama dengan keturuff dengan Bumi 

-------------------

hlm. 104 

1. Rancawunya dan dititahkan Bumi Cenggu dan Bumi Sarintonggu 11 kepada tempat juadah bersama-sama dengan Anangguru peranakan dan juru tulis Bumi Ra Ncawu tiga orang adanya . Syahdan pun maka dititahkan Bumi Langgar Nisa bemama Stambila menggosok gigi Si Kau, perempuan adanya.  Syahdan maka pada hari Selasa, empat belas hari bulan Rabiulakhir, yang tersebut dahulu itu kemudian daripada ditumpahkan air mandi Si Kau laki-laki, cljmulai lagi pulah berinai Si Kau perempuan bernama Lala Ran ti dengan menyambut pulah siri puan kepada kampung sendiri Paduka Tuan Kita Raja Bicara kepada tangan Bumi Cenggu bernama Abdullah. Maka dihadirkanlah sepasang pabule yang dililit dengan cindai yang di atas satu-satu pebule seorang atau rato menari ~aki-laki memangku siri puan yang memakai cara bermain tatulang jua. Setelah sampai di kampung, R.aja Bicara menerima siri 5. puan berjalan kembali I pulang, masuk dalam is tan a. didahului oleh baris subah nae dan subah Jara Ngoco kedua dan cungkuh orang Manggarai dan [di] iringi dengan gendang, gong, serunai, dan tambur. Yang mengapit kiri kanan pabule itu Anangguru peranakan Melayu dengan segala anak buahnya , yang di belakangnya lagi imam Melayu dengan segala anak buahnya. Dan segala orang menari , laki-laki dan Kalero Sumi Kalero Wera sampai masuk di dalam is tan a siri puan. Maka berdiri berhadapan anangguru tatarapang memakai selat merah dan bercungku berperisai berhadapan orang Manggarai. Maka siri puan dinaikkan di atas istana kepada tempat ber[h] iasan . Maka berkumpullah masuk di dalam istana segala rato-rato laki-laki dan perempuan dan segala guru akan menanti hadir dan waktu akan berinai. Setelah sampai jam pukul sepuluh malam, telah hadirlah semuanya pekakas teratur atau dian-dian terpasang. Maka (di) Si Kau pun [di] naikkan di atas tilam kelambu bantal dengan memakai sangi hijau , bertopi akan emas, bersanggul s.t.y.ng. emas, bercincin intan , dan bergebar panjang. Setelah selesailah naik di atas tilam, maka masuklah khatib 10. keempat akan / berzikir, dibaca selawat dahulu, meletakkan inai. Maka dipasang meriam di luar subah tujuh kali dimain lagi, melucutkan inai, dipasang meriam tujuh .



Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar