Masuk nya Jepang di Bima
Awal mula kehadiran jepang memperlihatkan sikap simpatik pada kerajaan Bima dan rakyat karena berhasil merebut kekuasaan dari tangan Belanda. Keadaan menjadi lain ketika Jepang menurunkan bendera Kerajaan Bima dan digantikan dengan bendera Hinomaru.
Belum sebulan tentara Jepang menduduki Kerajaan Bima digelarkan hukuman ala Jepang terhadap seorang rakyat bernama Kahi asal kampung Nggarolo Kecamatan RasanaE. Ia didakwa dengan tuduhan mencuri besi tua pada suatu instansi pemerintah. Tanpa melalui pengadilan serta pemeriksaan yang seksama, rakyat yang malang ini dijatuhi hukuman pukulan sampai mati. Eksekusi dilaksanakan di depan halaman kediaman pimpinan tertinggi tentara Jepang yakni Kolonel Sạito ( rumah Bupati sekarang ) pada sore hari, La Kahi dipukuli dihadapan orang banyak, bila ia pingsan disirami dengan air dan siuman dipukul lagi demikian berganti-ganti sampai ia menemui ajalnya ditempat itu juga.
La Kahi Nggarolo adalah korban pertama pendudukan tentara Jepang di Kerajaan Bima. Pada hari-hari berikutnya penggelaran hukuman semacam itu menjadi tontonan rutin.
Watak asli imperialisme " saudara tua tak tersembunyi lagi setelah pasukan Angkatan Darat Jepang dalam jumlah besar menduduki negeri ini, menggantikan pasukan payung Angkatan Laut. Sekolah-sekolah dijadikan tempat penampung sementara; kemudian menyebar ke seluruh negeri. Mereka mendirikan barak-barak darurat dikebun-kebun milik rakyat di Rabangodu, Nggaro Lembo, Nggembe, Rasanggaro, Rade (Bolo Samili (woha ), Ntonggu ( Belo tempat fabrik uang, Rompo ( Wawo ) dan banyak lagi yang tidak dapat disebut satu persatu. Kebun rakyat tersebut diambil dengan paksa tanpa diberikan ganti rugi.
Gunung-gunung dilubangi untuk perlindungan baterai penangkis udara serta tempat penyimpanan material/logistik perang. Gunung Dara yang Pertama kali dilubangi oleh pasukan Angkatan Laut. Lapangan terbang Palibelo yang sudah lama ditinggalkan Quantas direhabilitasi dengan kerja paksa. Pesawat pemburu Jepang berdatangan ke situ, perairan pantai lewamori menjadi tempat pangkalan pesawat amphibi.
Dalam posisi strategis demikian, tidak mengherankan bila dalam tahun 1943 Kerajaan Bima menjadi sasaran serangan udara sekutu, Kampung Sumbawa, kampung Bara, kampurg Sigi, kampung Mantro, kampung SaraE, kampung Tanjung berkali-kali di Bom nyaris rata dengan tanah. Kampung Rabangodu - kampung Rade - hancur dan terbakar
Semua rakyat khususnya penduduk kota Raba dan Bima mengungsi mencari tempat yang aman. Kegiatan pemerintah kerajaan pindah ke kampung Dodu. Kampung Mantro yang sudah habis rata dengan tanah terpaksa dihilang kan namanya dalam peta Kejenelian RasanaE
Pemboman pasar Bima tahun 1944 di pagi hari saat sedang ramai di kunjungi orang berbelanja menciptakan pemandangan yang mengerikan.
Mesjid Kerajaan Bima yang dibangun Sultan Abdul Kadim tahun 1737 kena bom nyaris hancur rata dengan tanah hanya tinggal utuh mihrabnya saja.
Nikah Berontak
Pemerintah Kerajaan Bima sangat terkejut ketika pada tahun 1943 pemerintah Militer Jepang minta agar gadis-gadis dikumpulkan untuk dijadikan "pelayan bar" - jugun-ianfu (comfort women) - guna melayani Jepang.
Menanggapi permintaan yang aneh itu Sultan Muhammad Salahuddin berkonsultasi dengan Jeneli RasanaE Abdul- muthalib bersama gelarang dan kepala kampung.
Untuk menyampaikan penolakan itu Sultan mengutus Jeneli RasanaE bersama gelarang dan kepala kampung menghadap pemerintah Militer Jepang di Raba , Kepala kampung menyerahkan keris terhunus kepada pembesar Jepang. Jadi bukan gadis Bima yang diserahkan akan tetapi nyawa yang diserahkan demi kehormatan gadis Bima dan kerajaan.
Sultan Bima mengingatkan pemerintah Militer Jepang agar jangan berbuat yang menyinggung perasaan rakyat yang amat fanatik kepada agama Islam dan Hadat demi keselamatan mereka sendiri Kalangan masyarakat Bima dan Đompu memberikan reaksi keras. Tokoh masyarakat yang terdiri dari M. Saleh Bakri, dokter Sajimin,
Yahya Muhammad, Haji Abdul Wahab menghadap pimpinan tertinggi Bala Tentara Nippon Sumbawa Timur Jenderal Mayor Tanaka guna menyampaikan petisi protes keras.
Di Tente terbentuk suatu komite yang diberi nama Komite Rakyat Islam Tente dipimpin oleh M. Tayeb Abdullah, Yahya teta Ani, Abubakar Abbas, Dollah Ahmad, dan Ahmad dae Ame. Komite menyampaikan protes keras pula. Komite menghadap sultan terlebih dahulu kemudian ke Raba menemui pimpinan Bala Tentara Nippon.
Tiada hari yang penuh kepanikan bercampur garang selain dari pada hari-hari sesudah kejadian itu bagi rakyat Bima dan Dompu terutama para orang tua yang mempunyai anak gadis. Walaupun protes keras telah disampaikan kepada Jenderal Mayor Tanaka, pemerintah Kerajaan Bima mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghadapi kemungkinan yang tak diinginkan.
Pemerintah menyarankan dan penganjurkan kepada para orang tua agar segera mengawinkan anak gadis antara keluarga atau dengan jejaka yang dianggap pantas.
Para orang tua yang mempunyai anak gadis berusaha untuk menghubungi keluarga yang mempunyai anak jejaka atau jejaka lainnya. Tidak mengherankan jika sang gadis dengan calon suaminya baru berjumpa untuk pertama kalinya pada saat dilangsungkan akad nikah. Upacara perkawinan berlangsung cukup hanya menghidangkan secangkir dua kopi- beras untuk menghormati penghulu. Penghulu pun tidak kalah sibuknyat seperti masyarakat itu sendiri.
Perkawinan pada masa itu dikenal masyarakat dengan kawin berontak ( Bima nika baronta ).
