USM7uKzrSsmCaVoTHNCgNHTLw5k8mZOpxmzx7nna
Bookmark

Prosesi Adat Ua Pua





Upacara Adat Hanta Ua Pua merupakan warisan turun-temurun budaya Islam selama berabad-abad. Dalam perkembangan sejarah Bima, Upacara Adat Hanta Ua Pua dilaksanakan pertama kali pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin, Sultan Bima kedua (1640-1682 M). Sejak saat itu, Upacara Adat Hanta Ua Pua ditetapkan sebagai salah satu perayaan rutin kesultanan Bima yang dikenal dengan Rawi Na’e Ma Tolu Kali Samba’a (Upacara Besar yang Dilaksanakan dalam Tiga Kali Setahun). Perayaan tersebut yaitu 
  1. Ndiha Aru Raja Na’e (Perajaan Idul Adha), 
  2. Ndiha Aru Raja To’i (Perayaan Idul Fitri), dan 
  3. Ndiha Ua Pua (Perayaan Hanta Ua Pua) 
Pelaksanaan Upacara Adat Hanta Ua Pua diisi dengan beragam kegiatan seni budaya dan agama. Berbagai atraksi kesenian tradisional dan kegiatan keagamaan dilaksanakan selama sepekan, sehingga Upacara Adat Hanta Ua Pua betul-betul melekat dalam jiwa masyarakat Bima. Suksesnya Upacara Adat Hanta Ua Pua di masa lalu tidaklah terlepas dari perhatian Sultan dan semangat gotong-royong masyarakat dalam mempersiapkan perayaan Hanta Ua Pua. Ua Pua yang dalam bahasa Melayu disebut “Sirih Puan” adalah satu rumpun tangkai bunga telur berwarna-warni yang dimasukkan dalam satu wadah segi empat berjumlah 99, Jumlah bunga telur tersebut berjumlah 99 tangkai yang sesuai dengan nama dan jumlah Asma’ul Husna. Kemudian ditengah-tengahnya ada sebuah Kitab Suci Al-Qur’an ditempatkan di tengah-tengah sebuah rumah mahligai (Uma Lige) yang berbentuk segi empat berukuran 4x4 meter persegi. Bentuk Uma Lige ini terbuka dari keempat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari Lenggo Mbojo yang terdiri dari empat orang gadis, penari Lenggo Melayu yang terdiri dari empat perjaka, beserta panghulu Melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh masyarakat sepanjang jalan. 

Uma Lige diangkat oleh 44 orang perwakilan 44 Dari di Bima melambangkan bahwa ajaran yang dibawa oleh para mubalig kelana didukung oleh masyarakat Bima. Dari adalah klan atau kelompok masyarakat zaman dulu yang dipimpin oleh Anangguru Dari. Di masyarakat Bima ada banyak Dari. Dalam Majelis Hadat Lengkap, mereka diwakili oleh Rato Bumi Na’e Nggeko yang tergolong dalam keanggotaan Majelis Sara Tua. Dalam struktur pemerintahan kesultanan, Majelis Sara Tua adalah majelis legislatif dan konsultatif. Struktur kemasyarakatan dengan sistem Dari ini tidak ada lagi sekitar tahun 1930. Uma Lige diberangkatkan dari rumah Penghulu Melayu di Kampung Melayu, mengingatkan kita bahwa dari orang-orang Melayulah Islam diterima oleh orang Bima (Hamzah, 2004). Kampung Melayu di tengah-tengah Kota Bima sekarang, yang dulunya merupakan tempat khusus sebagai hadiah pemberian raja kepada para Datuk dan rombongan orang-orang Melayu yang mengantar Islam masuk ke Bima
Orang-orang Melayu tersebut dipimpin oleh seorang Penghulu Melayu. Sistem kepemimpinan ini terus berjalan secara turun temurun Setiap peringatan Upacara Adat Hanta Ua Pua, dari kampung sederhana itulah Uma Lige (mahligai) yang merupakan icon utama dalam tradisi ini menjadi pusat perhatian yang sengaja memenuhi tiap sudut jalan dari kampung Melayu menuju Istana Kesultanan Bima, untuk mengantarkan Ua Pua kepada raja muda di Istana Tua Kesultanan Bima 

Peringatan maulud Nabi Muhammad saw, dirangkaikan dengan Upacara Adat Hanta Ua Pua yang mulai dilaksanakan pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajuddin, Sultan Bima II yang memerintah dari tahun 1640-1682.
Pada awalnya pelaksanaan upacara Ua Pua dirintis serta dilaksanakan oleh: 
  1. Datuk Raja Lelo
  2. Datuk Selangkota
  3. Datuk Lela
  4. Datuk Panjang
Ulama tersebut berasal dari Pagaruyung (Minangkabau) Sumatera barat, anak cucu dari Abdurrahman (Datuk Di Banda) dan Abdurrahim (Datuk Di Tiro), keduanya adalah guru dari Sultan Abdul Kahir I (Sultan Bima I)

Datuk Raja Lelo dan kawan-kawan datang ke Bima untuk meneruskan kegiatan dakwah yang telah dirintis oleh Datuk di Banda dan Datuk di Tiro, karena ulama tersebut telah kembali ke Gowa guna melanjutkan dakwah Islam di Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Beberapa saat setelah Datuk Di Banda dan Datuk Di Tiro meninggalkan Bima, Sultan Abdul Kahir menghadap Yang Maha Kuasa yaitu pada tanggal 8 Ramadhan 1050 H. Tampuk pemerintahan kesultanan diserahkan kepada putranya, Sultan Abdul Khair Sirajuddin yang masih muda (±13 tahun), usia yang sangat muda yang masih memerlukan bimbingan para ulama, namun dalam perjalanannya Datuk Raja Lelo dan kawan-kawan yang diharapkan menjadi guru dan pembimbing Sultan Muda terlambat sampai di Bima. Hal inilah yang menyebabkan pada awal pemerintahannya, Sultan Abdul Khair Sirajuddin kurang memahami agama Islam. Sultan Abdul Khair Sirajuddin lebih mencintai seni budaya. 

Meskipun terlambat, akhirnya Datuk Raja Lelo dan kawan-kawan tiba juga di Bima guna melaksanakan tugas mulia membimbing Sultan dan rakyatnya ke jalan yang benar. Langkah awal yang dilakukan ialah menyadarkan Sultan atas kelemahannya di bidang agama. Dengan modal keikhlasan, kesabaran dan kasih sayang, akhirnya mereka berhasil menemukan pendekatan yang dapat diterima oleh Sultan, Datuk Raja Lelo bersama empat temannya melaksanakan upacara kelahiran junjungan Nabi Muhammad saw. bertepatan dengan tanggal 12 Rabi’ul Awwal di pemukiman para ulama di Ule. Upacara Maulud Nabi yang pertama kali diadakan di Bima, berkenan dihadiri oleh Sultan, maka oleh kelima ulama tersebut dirancang berbagai jenis kegiatan yang dapat memikat hati Sultan yang berdarah seni itu, sehingga selain melakukan kegiatan dakwah (tadarus Al-Qur’an tabligh dan ceramah), maka diadakan pula atraksi kesenian yang Islami. Usaha mulia yang dirintis oleh para ulama itu tidak sia-sia.

Sultan bersama anggota majelis adat berkenan hadir di Ule, guna mengikuti upacara yang baru pertama kali disaksikan. Nasihat para ulama yang disampaikan melalui ceramhnya melahirkan tekad untuk memperbaiki segala kehilafannya. Akhirnya di hadapan para ulama Sultan Muda berjanji untuk menjadi muslim sejati sesuai dengan wasiat sang ayah yang tertuang dalam sumpah Oi Ule. Menyadari besarnya pengaruh Upacara Hanta Ua Pua bagi kehidupan budaya dan beragama, maka Sultan Abdul Khair Sirajuddin pada tahun 1070 H (±tahun 1660 M) menetapkan upacara bernuansa Islam itu sebagai upacara adat resmi kesultanan. Biaya penyelenggaraan ditanggung oleh pemerintah Kesultanan Bima yang bersumber dari hasil tanah seluas 200 Ha yang telah ditetapkan sebagai tanah maulud (Dana Molu) yang hasilnya bukan hanya untuk kepentingan Ua Pua, tetapi juga untuk kepentingan dakwah dan pendidikan Islam serta pengembangan seni budaya.

Sebagai tanda penghormatan dan terima kasih kepada gurunya, Sultan meminta kesediaan mereka agar berkenan pindah ke lokasi baru yang tidak jauh dari istana, yaitu Kampo Malayu sekarang. Di samping itu, Sultan menghadiahkan sejumlah lahan pertanian (sawah) yang berada di sebelah timur pemukiman baru (Kampo Malayu). Namun, tanpa mengurangi penghargaan yang diberikan Sultan, Datuk Raja Lelo dan kawan-kawannya terpaksa menolak hadiah tersebut dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki kemampuan dan bakat untuk bercocok tanam. Areal persawahan yang dikembalikan oleh para ulama Melayu itu terkenal dengan nama “tolo bali” (sawah yang dikembalikan), bukan tolo bali (sawah orang Bali) seperti dugaan sementara orang.

Dalam perayaan Hanta Ua Pua, terdapat rangkaian acara yang dilaksanakan selama sepekan, diawali dengan pagelaran berbagai atraksi kesenian di lapangan Sera Suba serta kegiatan upacara inti yaitu Jiki Molu yang dilaksanakan pada malam hari sebelum perayaan Hanta Ua Pua dan prosesi inti perayaan Hanta Ua Pua itu sendiri. Jiki Molu dilangsungkan pada malam hari sebelum perayaan Hanta Ua Pua. Hadir pada upacara tersebut majelis Hadat Kesultanan Bima yang terdiri dari majelis Sara Tua, majelis Sara-Sara, dan majelis Sara Hukum dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad saw. dengan membacakan Barzanzi. 

Dalam acara itu juga berlangsung acara adat Weha Tau Apa, yaitu perjamuan kue apem yang dimakan dengan opor serta minum sorbet. Setiap pejabat mempunyai satu perangkat hidangan yang di tata di atas talam dan ditutup dengan tonggo apa. Penataan kue apem diatur menurut peringkat kepangkatan masing-masing pejabat dalam persidangan. Perangkat hidangan ini kemudian dibawa ke rumah masingmasing. Penutupan acara ini ditandai dengan membagikan bunga rampai kepada hadirin. 

Upacara Inti Hanta Ua Pua 

Jam 09.00, utusan Sultan yang terdiri dari tokohtokoh adat, anggota laskar kesultanan, beserta penari Lenggo Mbojo menjemput Penghulu Melayu di kediamannya di kampung Melayu. 
Jam 09.00, Penghulu Melayu bersama rombongan berangkat di kampung Melayu menuju istana Bima yang ditandai dengan bunyi meriam. Adapun tata urutan rombongan adalah sebagai berikut: pasukan Jara Wera datang sebagai pasukan pengawal pembuka jalan lalu disusul oleh pasukan Jara Sara’u. Kemudian disusul di belakangnya oleh anggota Laskar Suba Na’e dan penari Sere. Setelah itu adalah rombongan pengusung Uma Lige (mahligai). Baru di belakangnya adalah rombongan pemuka adat Melayu dan pemuka adat Mbojo 
Jam 10.00 rombongan Penghulu Melayu tiba di istana Bima yang disambut dengan Tari Kanja, Tari Sere, dan Mihu. Kemudian Penghulu menyerahkan Ua Pua kepada Sultan sebagai simbol kesepakatan Penghulu (Ulama) dengan Sultan bersama seluruh rakyat Dana Mbojo untuk mempelajari dan memahami serta mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan berbangsa dan bernegara demi terwujudnya kehidupan masyarakat Mbojo yang Islami. Sultan bersama Penghulu Melayu duduk berdampingan di tempat yang telah disediakan sebagai lambang keharmonisan hubungan Ulama dan Umara. Setelah upacara usai, “Bunga Dolu” berjumlah 99 tangkai, symbol Asma’ul Husna dibagi- bagikan kepada hadirin 

Perlengkapan dan Atraksi Acara Ua Pua 
  1. Uma Lige
    Berbentuk segi empat berukuran 4x4 meter persegi. Bentuk Uma Lige ini terbuka dari keempat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat gadis, dan penari lenggo Melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu Melayu dan pengikutnya yang ada di atas, beserta para penghulu Melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh lapisan masyarakat sepanjang jalan. Uma Lige diusung oleh 44 orang pria sebagai simbol keberadaan 44 Dari Mbojo yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan keterampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur pemerintahan Kesultanan Bima. Ketika Uma Lige sudah berada di depan istana maka akan diputar-putar kemudian diturunkan, Penghulu Melayu serta pemayung turun. Mereka pun menaiki tangga istana diikuti para penari dan Anangguru Mpa’a, serta Ua Pua yang ikut diusung dalam Uma Lige, Ua Pua diturunkan dari usungan lalu diangkat ke ruang istana untuk diserahkan kepada sultan oleh Penghulu.
  2. Bunga Dolu
    Bunga Dolu terbuat dari telur ayam yang dibungkus dengan kertas minyak beraneka warna. Tangkainya terbuat dari kayu atau bambu sepanjang 30 cm dan ditancapkan pada wadah segi empat panjang bersama sirih pinang dan kitab suci Al-Qur’an di tengah-tengahnya. Bunga Doluyang berjumlah 99 itu melambangkan Asma’ul Husna dan Al-Qur’an sebagai kitabullah. Benda inilah yang dikelilingi oleh para penari. 
  3. Pasukan Jara Wera dan Pasukan Jara Sara’u
    Pasukan Jara Wera dalam sejarahnya adalah pasukan yang memang sebagian besar berasal dari Kecamatan Wera yang setia membela agama Islam. Pasukan ini dibentuk sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Kahir, Sultan Bima pertama. Seluruh pasukan berseragam putih-putih sebagai lambang kesucian dan keikhlasan dalam membela agama, rakyat, dan negeri. Para penunggangnya adalah para pendekar yang menunjukkan jalan serta mengantar para datuk yang datang dari Makassar menuju Bima lewat Teluk Bima ketika pertama kali membawa ajaran Islam di Kerajaan Bima. Itulah sebabnya Jara Wera berada di posisi paling depan. 
    Di belakang pasukan Jara Wera diikuti oleh pasukan Jara Sara’u, yaitu pasukan elit berkuda Kesultanan Bima sebagai pengawal kehormatan. Pasukan Jara Sara’u yaitu pasukan berkuda yang terampil menunggang serta mengatur irama serta gerak langkah kuda. Pasukan ini memiliki keahlian dalam memainkan pedang, tombak, dan keris di atas kuda. Dalam Upacara Hanta Ua Pua mereka menampilkan atraksi dengan cara mengatur hentakan kaki kuda yang seirama dengan alunan gendang dan serunai serta gerakan para penari Lenggo.
  4. Laskar Suba Na’e
    Laskar Suba Na’e adalah pasukan prajurit Kesultanan Bima, pasukan perang ini membawa peralatan perang berupa tombak dan tameng sebagai simbol kesia-siagaan pasukan kerajaan mengamankan negeri. Di belakang pasukan laskar Suba Na’e berjalan Uma Lige yang diiringi oleh Keluarga besar kampung Melayu, mereka adalah tamu kehormatan dalam upacara adat ini. Setelah Uma Lige sampai di tangga istana diturunkan lalu turunlah Penghulu Melayu untuk mengantarkan rumpun Bunga Dolu dengan AlQur’an yang diserahkan kepada Sultan Bima.
  5. Tari Lenggo
    Tari Lenggo ada dua jenis yaitu Tari Lenggo Melayu dan Lenggo Mbojo. Lenggo Melayu diciptakan oleh salah seorang mubalig dari Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bernama Datuk Raja Lelo pada tahun 1070 H. Tarian ini memang khusus diciptakan untuk Upacara Adat Hanta Ua Pua dan dipertunjukkan pertama kali di Oi Ule dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Lenggo Melayu juga dalam bahasa Bima disebut Lenggo Mone karena Lenggo Melayu juga dibawakan oleh empat orang remaja pria.Terinspirasi dari gerakan Lenggo Melayu, setahun kemudian SultanAbdul Khair Sirajuddin menciptakan Lenggo Mbojo yang diperankan oleh empat orang penari perempuan. Lenggo Mbojo disebut juga Lenggo Siwe Pada perkembangan selanjutnya, perpaduan antara Lenggo Melayu dan Lenggo Mbojo akhirnya dikenal dengan Lenggo Ua Pua 
  6. Tari Kanja dan Mihu
    Tari Kanja yakni tari perang yang dimainkan oleh seorang perwira tinggi kesultanan sebagai pernyataan kesiapan menjaga keamanan dan ketertiban jalannya upacara,
    sedangkan Mihu merupakan pernyataan kesiapan sultan untuk menerima sekaligus memulai upacara penyerahan Ua Pua yang berisi kitab suci AlQur’an.
  7. Tari Sere
    Tari Sere yang mengantar Uma Lige sampai ke tangga istana. Tari Sere adalah sejenis tari perang dimainkan oleh enam orang penari bersama bintara Kesultanan Bima yang disebut “Bumi Sumpi” sebagai tanda terjaminnya keamanan dan ketertiban jalannya Upacara Hanta Ua Pua. Sambil memegang tombak, para penari Sere mengacungkan tombak dan melangkah menuju tangga istana yang diiringi musik tambur dan silu.
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar