Prosesi Adat Ua Pua
daerus
... menit baca
- Ndiha Aru Raja Na’e (Perajaan Idul Adha),
- Ndiha Aru Raja To’i (Perayaan Idul Fitri), dan
- Ndiha Ua Pua (Perayaan Hanta Ua Pua)
Uma Lige diangkat oleh
44 orang perwakilan 44 Dari di Bima melambangkan
bahwa ajaran yang dibawa oleh para mubalig
kelana didukung oleh masyarakat Bima. Dari adalah
klan atau kelompok masyarakat zaman dulu yang
dipimpin oleh Anangguru Dari. Di masyarakat Bima
ada banyak Dari. Dalam Majelis Hadat Lengkap,
mereka diwakili oleh Rato Bumi Na’e Nggeko
yang tergolong dalam keanggotaan Majelis Sara
Tua. Dalam struktur pemerintahan kesultanan,
Majelis Sara Tua adalah majelis legislatif dan
konsultatif. Struktur kemasyarakatan dengan sistem
Dari ini tidak ada lagi sekitar tahun 1930.
Uma Lige diberangkatkan dari rumah Penghulu
Melayu di Kampung Melayu, mengingatkan kita
bahwa dari orang-orang Melayulah Islam diterima
oleh orang Bima (Hamzah, 2004). Kampung Melayu
di tengah-tengah Kota Bima sekarang, yang dulunya
merupakan tempat khusus sebagai hadiah pemberian
raja kepada para Datuk dan rombongan orang-orang Melayu yang mengantar Islam masuk ke Bima
Orang-orang Melayu tersebut dipimpin oleh
seorang Penghulu Melayu. Sistem kepemimpinan ini
terus berjalan secara turun temurun Setiap peringatan
Upacara Adat Hanta Ua Pua, dari kampung sederhana
itulah Uma Lige (mahligai) yang merupakan icon
utama dalam tradisi ini menjadi pusat perhatian yang sengaja memenuhi tiap sudut jalan dari
kampung Melayu menuju Istana Kesultanan Bima,
untuk mengantarkan Ua Pua kepada raja muda di
Istana Tua Kesultanan Bima
Peringatan maulud Nabi Muhammad saw,
dirangkaikan dengan Upacara Adat Hanta Ua Pua
yang mulai dilaksanakan pada masa pemerintahan
Sultan Abdul Khair Sirajuddin, Sultan Bima II
yang memerintah dari tahun 1640-1682.
Pada awalnya pelaksanaan upacara Ua Pua dirintis serta dilaksanakan oleh:
Pada awalnya pelaksanaan upacara Ua Pua dirintis serta dilaksanakan oleh:
- Datuk Raja Lelo
- Datuk Selangkota
- Datuk Lela
- Datuk Panjang
Datuk Raja Lelo dan kawan-kawan datang ke
Bima untuk meneruskan kegiatan dakwah yang telah
dirintis oleh Datuk di Banda dan Datuk di Tiro,
karena ulama tersebut telah kembali ke Gowa guna
melanjutkan dakwah Islam di Sulawesi Selatan dan
sekitarnya. Beberapa saat setelah Datuk Di Banda
dan Datuk Di Tiro meninggalkan Bima, Sultan Abdul
Kahir menghadap Yang Maha Kuasa yaitu pada
tanggal 8 Ramadhan 1050 H. Tampuk pemerintahan
kesultanan diserahkan kepada putranya, Sultan Abdul
Khair Sirajuddin yang masih muda (±13 tahun), usia
yang sangat muda yang masih memerlukan bimbingan
para ulama, namun dalam perjalanannya Datuk Raja
Lelo dan kawan-kawan yang diharapkan menjadi
guru dan pembimbing Sultan Muda terlambat sampai
di Bima. Hal inilah yang menyebabkan pada awal
pemerintahannya, Sultan Abdul Khair Sirajuddin
kurang memahami agama Islam. Sultan Abdul Khair
Sirajuddin lebih mencintai seni budaya.
Meskipun terlambat, akhirnya Datuk Raja
Lelo dan kawan-kawan tiba juga di Bima guna
melaksanakan tugas mulia membimbing Sultan
dan rakyatnya ke jalan yang benar. Langkah awal
yang dilakukan ialah menyadarkan Sultan atas
kelemahannya di bidang agama. Dengan modal
keikhlasan, kesabaran dan kasih sayang, akhirnya mereka berhasil menemukan pendekatan yang dapat
diterima oleh Sultan, Datuk Raja Lelo bersama empat
temannya melaksanakan upacara kelahiran junjungan
Nabi Muhammad saw. bertepatan dengan tanggal
12 Rabi’ul Awwal di pemukiman para ulama di Ule.
Upacara Maulud Nabi yang pertama kali diadakan di
Bima, berkenan dihadiri oleh Sultan, maka oleh kelima
ulama tersebut dirancang berbagai jenis kegiatan yang
dapat memikat hati Sultan yang berdarah seni itu,
sehingga selain melakukan kegiatan dakwah (tadarus
Al-Qur’an tabligh dan ceramah), maka diadakan
pula atraksi kesenian yang Islami. Usaha mulia yang
dirintis oleh para ulama itu tidak sia-sia.
Sultan bersama anggota majelis adat berkenan
hadir di Ule, guna mengikuti upacara yang baru
pertama kali disaksikan. Nasihat para ulama yang
disampaikan melalui ceramhnya melahirkan tekad
untuk memperbaiki segala kehilafannya. Akhirnya
di hadapan para ulama Sultan Muda berjanji untuk
menjadi muslim sejati sesuai dengan wasiat sang
ayah yang tertuang dalam sumpah Oi Ule. Menyadari
besarnya pengaruh Upacara Hanta Ua Pua bagi
kehidupan budaya dan beragama, maka Sultan Abdul
Khair Sirajuddin pada tahun 1070 H (±tahun 1660
M) menetapkan upacara bernuansa Islam itu sebagai
upacara adat resmi kesultanan. Biaya penyelenggaraan ditanggung oleh pemerintah Kesultanan Bima yang
bersumber dari hasil tanah seluas 200 Ha yang telah
ditetapkan sebagai tanah maulud (Dana Molu) yang
hasilnya bukan hanya untuk kepentingan Ua Pua,
tetapi juga untuk kepentingan dakwah dan pendidikan
Islam serta pengembangan seni budaya.
Sebagai tanda penghormatan dan terima kasih
kepada gurunya, Sultan meminta kesediaan mereka
agar berkenan pindah ke lokasi baru yang tidak jauh
dari istana, yaitu Kampo Malayu sekarang. Di samping
itu, Sultan menghadiahkan sejumlah lahan pertanian
(sawah) yang berada di sebelah timur pemukiman
baru (Kampo Malayu). Namun, tanpa mengurangi
penghargaan yang diberikan Sultan, Datuk Raja
Lelo dan kawan-kawannya terpaksa menolak hadiah
tersebut dengan alasan bahwa mereka tidak memiliki
kemampuan dan bakat untuk bercocok tanam. Areal
persawahan yang dikembalikan oleh para ulama
Melayu itu terkenal dengan nama “tolo bali” (sawah
yang dikembalikan), bukan tolo bali (sawah orang
Bali) seperti dugaan sementara orang.
Dalam perayaan Hanta Ua Pua, terdapat
rangkaian acara yang dilaksanakan selama sepekan,
diawali dengan pagelaran berbagai atraksi kesenian di
lapangan Sera Suba serta kegiatan upacara inti yaitu
Jiki Molu yang dilaksanakan pada malam hari sebelum perayaan Hanta Ua Pua dan prosesi inti perayaan
Hanta Ua Pua itu sendiri. Jiki Molu dilangsungkan
pada malam hari sebelum perayaan Hanta Ua Pua.
Hadir pada upacara tersebut majelis Hadat Kesultanan
Bima yang terdiri dari majelis Sara Tua, majelis
Sara-Sara, dan majelis Sara Hukum dalam rangka
memperingati Maulud Nabi Muhammad saw. dengan
membacakan Barzanzi.
Dalam acara itu juga berlangsung acara adat Weha
Tau Apa, yaitu perjamuan kue apem yang dimakan
dengan opor serta minum sorbet. Setiap pejabat
mempunyai satu perangkat hidangan yang di tata di
atas talam dan ditutup dengan tonggo apa. Penataan
kue apem diatur menurut peringkat kepangkatan
masing-masing pejabat dalam persidangan. Perangkat
hidangan ini kemudian dibawa ke rumah masingmasing. Penutupan acara ini ditandai dengan
membagikan bunga rampai kepada hadirin.
Upacara Inti Hanta Ua Pua
Jam 09.00, utusan Sultan yang terdiri dari tokohtokoh adat, anggota laskar kesultanan, beserta penari
Lenggo Mbojo menjemput Penghulu Melayu di
kediamannya di kampung Melayu.
Jam 09.00, Penghulu Melayu bersama rombongan
berangkat di kampung Melayu menuju istana Bima yang ditandai dengan bunyi meriam. Adapun tata
urutan rombongan adalah sebagai berikut: pasukan
Jara Wera datang sebagai pasukan pengawal pembuka
jalan lalu disusul oleh pasukan Jara Sara’u. Kemudian
disusul di belakangnya oleh anggota Laskar Suba
Na’e dan penari Sere. Setelah itu adalah rombongan
pengusung Uma Lige (mahligai). Baru di belakangnya
adalah rombongan pemuka adat Melayu dan pemuka
adat Mbojo
Jam 10.00 rombongan Penghulu Melayu tiba di
istana Bima yang disambut dengan Tari Kanja, Tari
Sere, dan Mihu. Kemudian Penghulu menyerahkan
Ua Pua kepada Sultan sebagai simbol kesepakatan
Penghulu (Ulama) dengan Sultan bersama seluruh
rakyat Dana Mbojo untuk mempelajari dan memahami
serta mengamalkan isi Al-Qur’an dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara demi terwujudnya kehidupan
masyarakat Mbojo yang Islami. Sultan bersama
Penghulu Melayu duduk berdampingan di tempat
yang telah disediakan sebagai lambang keharmonisan
hubungan Ulama dan Umara. Setelah upacara usai,
“Bunga Dolu” berjumlah 99 tangkai, symbol Asma’ul
Husna dibagi- bagikan kepada hadirin
Perlengkapan dan Atraksi Acara Ua Pua
- Uma Lige
Berbentuk segi empat berukuran 4x4 meter persegi. Bentuk Uma Lige ini terbuka dari keempat sisinya. Atapnya bersusun dua, sehingga para penari lenggo Mbojo yang terdiri dari empat gadis, dan penari lenggo Melayu yang terdiri dari empat orang perjaka, beserta para penghulu Melayu dan pengikutnya yang ada di atas, beserta para penghulu Melayu dan pengikutnya yang berada di atas dapat dilihat oleh seluruh lapisan masyarakat sepanjang jalan. Uma Lige diusung oleh 44 orang pria sebagai simbol keberadaan 44 Dari Mbojo yang terbagi menurut 44 jenis keahlian dan keterampilan yang dimilikinya sebagai bagian dari struktur pemerintahan Kesultanan Bima. Ketika Uma Lige sudah berada di depan istana maka akan diputar-putar kemudian diturunkan, Penghulu Melayu serta pemayung turun. Mereka pun menaiki tangga istana diikuti para penari dan Anangguru Mpa’a, serta Ua Pua yang ikut diusung dalam Uma Lige, Ua Pua diturunkan dari usungan lalu diangkat ke ruang istana untuk diserahkan kepada sultan oleh Penghulu. - Bunga Dolu
Bunga Dolu terbuat dari telur ayam yang dibungkus dengan kertas minyak beraneka warna. Tangkainya terbuat dari kayu atau bambu sepanjang 30 cm dan ditancapkan pada wadah segi empat panjang bersama sirih pinang dan kitab suci Al-Qur’an di tengah-tengahnya. Bunga Doluyang berjumlah 99 itu melambangkan Asma’ul Husna dan Al-Qur’an sebagai kitabullah. Benda inilah yang dikelilingi oleh para penari. - Pasukan Jara Wera dan Pasukan Jara
Sara’u
Pasukan Jara Wera dalam sejarahnya adalah pasukan yang memang sebagian besar berasal dari Kecamatan Wera yang setia membela agama Islam. Pasukan ini dibentuk sejak masa pemerintahan Sultan Abdul Kahir, Sultan Bima pertama. Seluruh pasukan berseragam putih-putih sebagai lambang kesucian dan keikhlasan dalam membela agama, rakyat, dan negeri. Para penunggangnya adalah para pendekar yang menunjukkan jalan serta mengantar para datuk yang datang dari Makassar menuju Bima lewat Teluk Bima ketika pertama kali membawa ajaran Islam di Kerajaan Bima. Itulah sebabnya Jara Wera berada di posisi paling depan.
Di belakang pasukan Jara Wera diikuti oleh pasukan Jara Sara’u, yaitu pasukan elit berkuda Kesultanan Bima sebagai pengawal kehormatan. Pasukan Jara Sara’u yaitu pasukan berkuda yang terampil menunggang serta mengatur irama serta gerak langkah kuda. Pasukan ini memiliki keahlian dalam memainkan pedang, tombak, dan keris di atas kuda. Dalam Upacara Hanta Ua Pua mereka menampilkan atraksi dengan cara mengatur hentakan kaki kuda yang seirama dengan alunan gendang dan serunai serta gerakan para penari Lenggo. - Laskar Suba Na’e
Laskar Suba Na’e adalah pasukan prajurit Kesultanan Bima, pasukan perang ini membawa peralatan perang berupa tombak dan tameng sebagai simbol kesia-siagaan pasukan kerajaan mengamankan negeri. Di belakang pasukan laskar Suba Na’e berjalan Uma Lige yang diiringi oleh Keluarga besar kampung Melayu, mereka adalah tamu kehormatan dalam upacara adat ini. Setelah Uma Lige sampai di tangga istana diturunkan lalu turunlah Penghulu Melayu untuk mengantarkan rumpun Bunga Dolu dengan AlQur’an yang diserahkan kepada Sultan Bima. - Tari Lenggo
Tari Lenggo ada dua jenis yaitu Tari Lenggo Melayu dan Lenggo Mbojo. Lenggo Melayu diciptakan oleh salah seorang mubalig dari Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bernama Datuk Raja Lelo pada tahun 1070 H. Tarian ini memang khusus diciptakan untuk Upacara Adat Hanta Ua Pua dan dipertunjukkan pertama kali di Oi Ule dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Lenggo Melayu juga dalam bahasa Bima disebut Lenggo Mone karena Lenggo Melayu juga dibawakan oleh empat orang remaja pria.Terinspirasi dari gerakan Lenggo Melayu, setahun kemudian SultanAbdul Khair Sirajuddin menciptakan Lenggo Mbojo yang diperankan oleh empat orang penari perempuan. Lenggo Mbojo disebut juga Lenggo Siwe Pada perkembangan selanjutnya, perpaduan antara Lenggo Melayu dan Lenggo Mbojo akhirnya dikenal dengan Lenggo Ua Pua - Tari Kanja dan Mihu
Tari Kanja yakni tari perang yang dimainkan oleh seorang perwira tinggi kesultanan sebagai pernyataan kesiapan menjaga keamanan dan ketertiban jalannya upacara,
sedangkan Mihu merupakan pernyataan kesiapan sultan untuk menerima sekaligus memulai upacara penyerahan Ua Pua yang berisi kitab suci AlQur’an. - Tari Sere
Tari Sere yang mengantar Uma Lige sampai ke tangga istana. Tari Sere adalah sejenis tari perang dimainkan oleh enam orang penari bersama bintara Kesultanan Bima yang disebut “Bumi Sumpi” sebagai tanda terjaminnya keamanan dan ketertiban jalannya Upacara Hanta Ua Pua. Sambil memegang tombak, para penari Sere mengacungkan tombak dan melangkah menuju tangga istana yang diiringi musik tambur dan silu.
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
