BADAI DARI TIMUR YANG MENGGUNCANG VOC BELANDA
Sultan Abil Khair Sirajuddin naik takhta menggantikan ayahnya, Sultan Abdul Kahir di tengah masa transisi besar di Nusantara. Sebagai pemimpin Kesultanan Bima, ia mewarisi semangat Islam yang baru tumbuh dan aliansi politik yang kuat dengan Kesultanan Gowa di Sulawesi. Hubungan ini bukan sekadar perjanjian di atas kertas, melainkan ikatan darah. Sultan Abil Khair adalah cucu dari Karaeng Kasuarang (bangsawan Gowa) dari garis ibu, dan ia sendiri memperistri Karaeng Bonto Je’ne, adik kandung dari "Ayam Jantan dari Timur", Sultan Hasanuddin. Ikatan emosional dan politik inilah yang kelak menyeret Bima ke dalam pusaran perang terbesar di abad ke-17: Perang Makassar
Benih kebencian Sultan Abil Khair terhadap VOC Belanda sebenarnya sudah tertanam jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pada tahun 1654, sebuah armada VOC di bawah pimpinan Arnold de Vlaming dan Komandan Roos menyerang wilayah Bima secara brutal. Serangan itu menewaskan dan menawan ratusan rakyat Bima. Luka ini membekas dalam hati sang Sultan, menjadikannya musuh alami bagi ambisi monopoli VOC. Ketika Gowa mulai dikepung oleh VOC yang bersekutu dengan Arung Palakka dari Bone, Sultan Abil Khair merasa panggilan jihad dan solidaritas keluarga tak bisa diabaikan. Ia memutuskan untuk mengangkat senjata, membela saudara iparnya, Sultan Hasanuddin.
Puncak keterlibatan Sultan Abil Khair terjadi pada akhir tahun 1666. Ketika armada VOC di bawah Cornelis Speelman bergerak menuju Buton untuk mematahkan kepungan pasukan Gowa, Sultan Abil Khair memimpin sendiri pasukan elit Bima untuk bergabung dengan Karaeng Bontomaranu di medan laga. Di tanah Buton, Sultan Bima bertempur dengan gagah berani menunggangi kuda legendarisnya, Jara Manggila Bersamanya, turut serta para pembesar istana seperti Perdana Menteri Bima (Ruma Bicara) La Mbila dan Perdana Menteri Dompu Abdul Rasul.
Namun, takdir pertempuran berbalik arah secara drastis. Pasukan Gowa dan sekutunya mengalami kehancuran bukan karena kurangnya keberanian, melainkan karena perpecahan internal. Ribuan laskar Bugis yang awalnya berada di pihak Gowa membelot ke kubu Arung Palakka. Di tengah kekacauan itu, pasukan Bima terdesak hebat. Perdana Menteri La Mbila gugur sebagai syuhada (kelak dikenal sebagai Mambora di Buton. Menyadari posisi yang mustahil untuk menang, pada awal Januari 1667, Sultan Abil Khair bersama Karaeng Bontomaranu dan Sultan Dompu terpaksa menyerah untuk menghindari pembantaian lebih lanjut terhadap sisa pasukan mereka.
Penyerahan diri itu membawa babak baru yang penuh derita namun memunculkan hikmah persaudaraan yang abadi. Sultan Abil Khair ditawan di atas kapal perang VOC bernama Vlieland. Selama berbulan-bulan, ia diarak oleh Speelman melintasi lautan, dari Buton hingga ke Ternate, sebagai trofi kemenangan untuk menekan mental lawan. Namun, di dalam perut kapal yang pengap itu, martabatnya sebagai raja tidak runtuh. Justru di sanalah terjadi peristiwa bersejarah yang dikenal sebagai "Sumpah di Atas Kapal"
Melihat penderitaan rekan sepenanggungannya, Sultan Abil Khair memeluk Perdana Menteri Dompu dan bersumpah bahwa penderitaan telah meleburkan batas-batas status sosial mereka. Ia menegaskan bahwa di dalam kesengsaraan itu, tidak ada lagi raja atau hamba, tidak ada tinggi atau rendah; mereka adalah saudara seibu yang keluar dari satu rahim penderitaan. Sumpah ini menjadi fondasi moral yang mempererat hubungan kekerabatan antara Bima dan Dompu selama berabad-abad kemudian.
Meskipun berstatus tawanan, api perlawanan tidak pernah benar-benar padam. Speelman yang mencoba memanfaatkan pengaruh para raja tawanan ini sempat lengah. Dalam sebuah insiden dramatis di perairan, para tawanan bangsawan ini, termasuk Sultan Abil Khair, berhasil melakukan perlawanan di atas sekoci pengangkut dan meloloskan diri untuk kembali bergabung dengan sisa pasukan Gowa di daratan Sulawesi. Sultan Abil Khair diyakini terus membantu sisa-sisa pertahanan Gowa hingga akhirnya Perjanjian Bungaya benar-benar melumpuhkan seluruh kekuatan Makassar pada akhir 1667.
Konsekuensi dari kekalahan Gowa sangat pahit bagi Bima. Berdasarkan Perjanjian Bungaya, Bima harus melepaskan diri dari perlindungan Gowa dan berdiri sendiri menghadapi tekanan VOC. Sultan Abil Khair, dengan jiwa besar seorang negarawan, akhirnya harus kembali ke Bima dan menandatangani kontrak dengan VOC pada tahun 1669. Meskipun terlihat sebagai kekalahan politik, langkah ini diambil untuk menyelamatkan kedaulatan Bima agar tidak dianeksasi sepenuhnya.
Di masa-masa damai setelah perang, Sultan Abil Khair Sirajuddin mengalihkan perjuangannya dari medan fisik ke medan spiritual dan administrasi. Ia dikenang sebagai peletak dasar sistem pemerintahan Islam yang kokoh di Bima. Ia menyempurnakan hukum adat agar selaras dengan hukum Islam (Hukum Hadat), membangun masjid-masjid, dan mewajibkan pencatatan sejarah kerajaan yang kini kita kenal sebagai Bo Sangaji Kai
Sultan Abil Khair Sirajuddin wafat pada tahun 1682, meninggalkan warisan bukan hanya sebagai raja yang pernah kalah perang, melainkan sebagai ksatria yang berani menantang imperium kolonial terkuat di zamannya demi kehormatan, persaudaraan, dan agama. Namanya abadi sebagai simbol perlawanan dan persaudaraan yang tulus di tanah Mbojo.
Hubungan Kekerabatan
- Hubungan Ipar (Aliansi Pernikahan) Ini adalah ikatan terkuat saat Perang Makassar terjadi.
- Sultan Hasanuddin (Raja Gowa) memiliki adik perempuan bernama Karaeng Bonto Je'ne.
- Sultan Abil Khair Sirajuddin menikah dengan Karaeng Bonto Je'ne.
Kesimpulan: Sultan Hasanuddin adalah kakak ipar Sultan Abil Khair Sirajuddin. Inilah alasan emosional mengapa Sultan Bima bertempur mati-matian di Buton.
Hubungan Darah (Garis Ibu) Sebelum menikah pun, Sultan Abil Khair sudah memiliki darah Gowa.
Ibunda dari Sultan Abil Khair (istri Sultan Abdul Kahir) memiliki hubungan darah dengan Karaeng Kasuarang.
Karaeng Kasuarang adalah bangsawan tinggi Gowa.
Oleh karena itu, di dalam nadi Sultan Abil Khair Sirajuddin sudah mengalir darah Makassar. Dari pernikahan Sultan Abil Khair Sirajuddin dengan Karaeng Bonto Je'ne (Adik Sultan Hasanuddin), lahirlah penerus takhta Bima selanjutnya, yaitu:
Setelah Perang Makassar yang dahsyat berakhir dengan kekalahan Sultan Hasanuddin dan penandatanganan Perjanjian Bungaya, VOC Belanda mengira api perlawanan di Timur Nusantara telah padam. Namun, mereka salah besar. Di antara puing-puing Benteng Somba Opu, berdiri seorang panglima perang senior bernama Karaeng Galesong. Ia adalah bangsawan tinggi Gowa, veteran perang yang telah bertempur di Buton bersama Sultan Bima Abil Khair Sirajuddin dan karaeng Panaragang., Ia memilih jalan sunyi para buangan: meninggalkan tanah kelahirannya untuk menyusun kekuatan di seberang lautan
Sebelum layar armadanya terkembang penuh menuju barat, Karaeng panaragang, Karaeng Galesong dan Karaeng Bontomaranu singgah di tanah sekutunya, Kesultanan Bima, pada sekitar tahun 1671. Kedatangannya disambut dengan haru namun tersembunyi, karena Bima saat itu sudah terikat perjanjian dengan VOC. Ia mendarat dan bermukim sementara di wilayah Sape dan Bolo. Jejak persinggahannya ini abadi dalam nama sebuah kampung di Bima, yakni Dusun Bontoranu. Di sana, ia tidak sekadar beristirahat, melainkan menggalang sisa-sisa prajurit Bima, Dompu, dan pelarian Makassar yang masih setia. Ketika logistik dirasa cukup dan semangat tempur telah pulih, ia membawa sekitar 800 pasukan gabungan—yang dikenal sebagai manusia-manusia keras yang tidak takut mati—untuk berlayar membelah Laut Jawa menuju Kesultanan Banten.
Di Banten, menemukan sekutu strategis dalam diri Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Banten yang anti-VOC itu melihat potensi besar pada armada gabungan Bima-Makassar. Mereka bukan bajak laut sembarangan, melainkan pasukan tempur terlatih yang kehilangan negara.
Sultan Ageng memberikan mereka tempat bermukim di pesisir utara Banten dan menugaskan mereka untuk mengganggu jalur perdagangan VOC. Namun, takdir bukanlah sekadar menjadi pengganggu di laut. Telinganya mendengar kabar pergolakan di Jawa Timur, di mana seorang pangeran Madura bernama Trunojoyo sedang menyusun pemberontakan melawan tirani Amangkurat I, Raja Mataram yang merupakan sekutu dekat VOC. Melihat adanya kesamaan musuh, yang kemudian bergabung dengan kelompok Karaeng Galesong—memutuskan untuk menyatukan kekuatan dengan Trunojoyo.
Persekutuan antara Laskar Madura pimpinan Trunojoyo dan Laskar Makassar-Bima pimpinan Karaeng Bontomaranu menjadi mesin perang yang menakutkan. Pasukan Bontomaranu memiliki keahlian menggunakan meriam dan senapan lantak (musket) yang mereka pelajari selama perang melawan Belanda di Makassar, sebuah keahlian yang jarang dimiliki pasukan pedalaman Jawa saat itu. Mereka bergerak cepat menaklukkan kota-kota pesisir Jawa Timur hingga masuk ke pedalaman. Momen paling krusial yang melahirkan nama besarnya terjadi ketika pasukannya berhasil menaklukkan dan mempertahankan wilayah Ponorogo.
Di Ponorogo, yang dikenal sebagai basis warok dan prajurit tangguh Mataram, Karaeng Bontomaranu menunjukkan keperkasaannya. Ia berhasil menguasai wilayah strategis tersebut dan menjadikannya benteng pertahanan yang sulit ditembus. Keberhasilannya menundukkan wilayah yang angker itu membuat namanya harum dan ditakuti. Lidah masyarakat Jawa dan catatan sejarah kemudian memberinya gelar baru: Karaeng Panaragang, yang bermakna "Sang Penakluk Ponorogo" atau "Penguasa Panaraga". Nama Bontomaranu perlahan tenggelam, digantikan oleh gelar Panaragang yang menyiratkan teror bagi musuh dan harapan bagi sekutu.
Kehebatan Karaeng Panaragang tidak hanya diakui di medan tempur, tetapi juga di meja diplomasi. Ketika pasukannya bergerak di perbatasan Jawa Barat dan Tengah untuk memutus jalur logistik VOC yang hendak membantu Mataram, ia berinteraksi dengan Kesultanan Cirebon. Cirebon, yang berada di posisi sulit antara Banten, Mataram, dan VOC, memilih untuk menghormati kekuatan baru ini. Dalam sebuah peristiwa yang dicatat dalam Bo Sangaji Kai (Catatan Kerajaan Bima), Sultan Cirebon memberikan hadiah berupa Payung Kebesaran kepada Karaeng Panaragang.
Pemberian payung ini memiliki makna simbolis yang sangat dalam. Bagi Cirebon, itu mungkin cara diplomatis untuk "memayungi" atau menjinakkan sang harimau dari timur agar tidak menyerang Cirebon. Namun bagi Karaeng Panaragang dan pasukannya, payung itu adalah simbol pengakuan kedaulatan. Ia menerimanya sebagai tanda bahwa ia bukan lagi sekadar pelarian perang atau pemberontak liar, melainkan seorang pemimpin yang setara dengan raja-raja Jawa, yang dihormati eksistensinya. Payung Cirebon itu konon selalu dibawa mengiringi pasukannya, menjadi panji kebanggaan yang menegaskan bahwa martabat orang Bima dan Makassar tetap tegak di tanah asing.
Puncak perjuangan Karaeng Panaragang terjadi pada tahun 1677, ketika pasukan gabungan Trunojoyo dan Makassar berhasil menyerbu Keraton Plered, ibu kota Mataram. Keraton yang megah itu jatuh, dan Raja Amangkurat I terpaksa melarikan diri hingga wafat dalam pelarian. Kemenangan ini adalah pembalasan dendam yang manis bagi Panaragang; ia berhasil meruntuhkan sekutu utama Belanda di Jawa. Harta rampasan perang Mataram dibagi, dan sebagian besar dibawa oleh pasukan Makassar sebagai bekal perjuangan selanjutnya
Namun, kejayaan itu tidak bertahan selamanya. VOC yang panik segera memanggil kembali Cornelis Speelman, musuh bebuyutan Panaragang di Perang Makassar. Speelman datang dengan armada penuh dan strategi devide et impera yang lebih licik, menyatukan kekuatan VOC dengan pasukan Bugis Bone di bawah Arung Palakka serta sisa pasukan Mataram. Perang saudara kembali pecah di tanah Jawa, kali ini lebih brutal. Terdesak oleh logistik yang menipis dan kepungan musuh yang jumlahnya berlipat ganda, kekuatan Trunojoyo dan Karaeng Panaragang perlahan pecah.
Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah (Sultan Bima ke-3)
Sepeninggal Sultan Abil Khair Sirajuddin pada tahun 1682, takhta Kesultanan Bima diwariskan kepada putranya, Sultan Nuruddin Abubakar Ali Syah. Sosok sultan muda ini sangat unik karena dalam dirinya mengalir dua darah kebangsawanan besar yang baru saja dihancurkan oleh VOC: darah Bima dari ayahnya dan darah Gowa dari ibunya, Karaeng Bonto Je’ne. Sebagai keponakan langsung dari Sultan Hasanuddin, beban sejarah yang dipikulnya sangat berat. Ia mewarisi sebuah kerajaan yang secara militer telah dilucuti oleh Perjanjian Bungaya, terpisah dari sekutu utamanya di Makassar, dan berada di bawah pengawasan ketat kongsi dagang Belanda.
Situasi pasca-Perjanjian Bungaya dan perang jawa menempatkan Sultan Nuruddin dalam posisi dilematis yang sangat pelik. Jika ia mengangkat senjata secara terbuka seperti ayahnya atau pamannya, Bima berisiko dihapus dari peta oleh meriam-meriam VOC yang saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Namun, menyerah sepenuhnya dan menjadi boneka Belanda juga bukanlah pilihan bagi seorang putra dari trah pejuang. Maka, Sultan Nuruddin memilih jalan ketiga: jalan diplomasi sunyi dan penguatan ke dalam. Ia menyadari bahwa jika Bima tidak bisa kuat secara militer karena larangan Belanda, maka Bima harus kuat secara hukum, agama, dan administrasi.
Langkah strategis pertama yang dilakukannya adalah menata ulang fondasi hukum kesultanan. Di masa pemerintahannyalah Islam benar-benar dijadikan landasan konstitusi negara yang tak tergoyahkan. Sultan Nuruddin tidak ingin rakyatnya hanya berislam secara ritual, tetapi juga secara hukum ketatanegaraan. Ia memerintahkan kodifikasi hukum adat agar selaras dengan syariat Islam. Pada masa inilah, pepatah “Adat matu’a di syara, Syara matu’a di Kitabullah” (Adat bersendi syara, Syara bersendi Kitabullah) mulai menemukan bentuk implementasi yang nyata. Ia memperkuat peran Qadhi (hakim agama) dan memastikan bahwa ulama memiliki posisi sejajar dengan kaum bangsawan dalam memberikan nasihat kepada raja.
Selain penguatan hukum, Sultan Nuruddin juga dikenal sebagai bapak administrasi Bima. Menyadari pentingnya pencatatan sejarah agar generasi mendatang tidak melupakan jati diri mereka, ia mewajibkan penulisan catatan harian kerajaan yang detail. Tradisi menulis Bo (catatan kerajaan) yang dirintis oleh leluhurnya, disempurnakan pada masanya. Segala peristiwa, mulai dari perjanjian dengan Belanda, silsilah keluarga, hingga keputusan pengadilan, dicatat dengan rapi di atas kertas dan daun lontar. Secara tersirat, ini adalah bentuk perlawanan intelektual; Belanda boleh menguasai perdagangan laut, tetapi memori dan identitas Bima tetap milik orang Bima sendiri.
Hubungan Sultan Nuruddin dengan VOC Belanda berlangsung dalam ketegangan yang dingin. VOC, yang memegang monopoli dagang berdasarkan Perjanjian Bungaya, sering kali menekan Bima untuk menyerahkan hasil bumi dengan harga murah. Sultan Nuruddin menghadapinya dengan kelicikan diplomatik. Ia mematuhi pasal-pasal perjanjian di atas kertas untuk menghindari invasi militer, namun di sisi lain, ia diam-diam membiarkan pelabuhan-pelabuhan tikus di Sape dan Wera tetap terbuka bagi pedagang-pedagang non-Belanda, termasuk pedagang Makassar dan Melayu yang menyelundupkan rempah-rempah dan senjata. Ia bermain cantik di antara kepatuhan formalitas dan pembangkangan tersembunyi.
Secara emosional, Sultan Nuruddin tetap menjaga hubungan batin dengan tanah kelahiran ibunya di Gowa. Meskipun Perjanjian Bungaya melarang adanya aliansi politik antara Bima dan Gowa, hubungan kekerabatan tidak bisa diputus begitu saja. Banyak bangsawan Gowa yang menyingkir dari Makassar pasca-perang diterima dengan baik di Bima secara diam-diam. Sultan Nuruddin menjadikan istananya sebagai tempat perlindungan yang aman bagi para kerabat ibunya yang kehilangan kekuasaan di Sulawesi, merawat luka sejarah akibat kekalahan pamannya, Sultan Hasanuddin.
Masa pemerintahan Sultan Nuruddin memang tidak lama, hanya sekitar lima tahun, namun dampaknya sangat fundamental. Ia berhasil membawa Bima keluar dari trauma kekalahan perang menjadi sebuah negara yang stabil, tertib administrasi, dan religius. Ia tidak mewariskan cerita kepahlawanan di medan tempur yang penuh darah seperti ayahnya, tetapi ia mewariskan sebuah sistem pemerintahan yang kokoh yang membuat Kesultanan Bima mampu bertahan ratusan tahun berikutnya di tengah cengkeraman kolonialisme. Sultan Nuruddin wafat pada tahun 1687 dan dikenang sebagai sang arsitek peradaban Bima yang membangun benteng pertahanan bukan dari batu, melainkan dari tinta, kertas, dan ayat-ayat suci.
