USM7uKzrSsmCaVoTHNCgNHTLw5k8mZOpxmzx7nna
Bookmark

Sejarah kerajaan Sumbawa



 

Asal-Usul dan Pengaruh Budaya

Sejarawan kolonial mengakui keterbatasan informasi mengenai asal-usul awal Sumbawa dan Bima. Tidak ada keterangan tertulis atau lisan yang jelas.

  • Sumbawa dan Sasak: Diperkirakan bahwa bangsa Sasak dan Sumbawa pada mulanya adalah satu bangsa yang sama. Penulis cenderung meyakini asal-usulnya dari Sasak.

  • Pengaruh Jawa: Legenda Bima dan Dompu mencampuradukkan tradisi Islam (Adam) dan Hindu/Jawa (Ardjoena, Bima, Indra). Cerita Dompu menyebut keturunan dewa dari Majapahit mendarat di Pulau Satonda, lalu menetap di Dompu. Putra bungsu pendatang Jawa (Sang Bima) ini, Indra Jamrut, dipercaya menjadi leluhur raja-raja Bima.

  • Islam: Agama Islam diperkenalkan di Sumbawa hampir bersamaan dengan wilayah lain, dengan Sultan pertama Bima yang memeluknya bernama Abdoel Kahir (antara 1450–1540).

II. Dominasi Makassar dan Awal Intervensi Kompeni (1624–1675)

Titik balik sejarah politik Sumbawa dan Bima adalah masuknya pengaruh kuat dari Kesultanan Goa (Makassar) dan kemudian Kompeni.

Penaklukan Goa

  • Sumbawa: Ditaklukkan oleh Makassar pada tahun 1624, lebih lambat dari kerajaan lain di Sumbawa. Meskipun Makassar takluk pada Kompeni (1667), pengaruh Goa di Sumbawa bertahan lama melalui pernikahan, perjanjian, hingga pemberontakan dan perang saudara.

  • Bima: Kerajaan timur Bima (Dongo dan Bolo) ditaklukkan Raja Allaoedien dari Goa pada 1619. Kekuasaan Makassar atas Bima berakhir setelah jatuhnya Goa.

Kontrak Paksa Kompeni

Jatuhnya Makassar memaksa kerajaan-kerajaan di Sumbawa untuk mencari aliansi baru dengan Kompeni.

  • Kontrak 1669 (Bima & Dompu): Bima dan Dompu menyatakan diri sebagai sekutu dan pelindung Kompeni di Benteng Rotterdam. Perjanjian ini secara tegas mewajibkan Bima dan Dompu untuk memusuhi Sumbawa yang saat itu keras kepala menolak bergabung.

  • Kontrak 1675 (Sumbawa): Setelah upaya militer yang gagal dan pemberontakan yang didalangi Makassar (1673) yang menggulingkan Raja Maas Goah, Kompeni memaksa Sumbawa bersekutu. Raja Maas Bantan akhirnya bergabung pada 16 Maret 1675. Kontrak ini juga ditandatangani oleh raja-raja kecil dari Alas hingga Tjereweh.

III. Pergolakan Lombok dan Perang Saudara (1723–1790)

Setelah bersekutu dengan Kompeni, konflik internal dan hubungan dengan Lombok menjadi fokus utama sejarah Sumbawa.

  • Penaklukan Bali di Lombok: Lombok (Selaparang) awalnya di bawah kekuasaan tidak langsung Sumbawa. Setelah Sumbawa menengahi pemberontakan di Selaparang (1675) dan memaksanya membayar denda 15.000 pikul kayu sappan sebagai jaminan, peperangan internal di Selaparang (1723) mendorong raja Sasak meminta bantuan orang Bali. Bali berhasil menaklukkan Lombok secara penuh antara 1738–1740.

  • Perang Saudara (1762–1790): Politik Sumbawa didominasi oleh konflik antarfaksi yang berlarut-larut:

    • 1762: Sultanah Karaeng Bontowa digulingkan oleh bangsawan, digantikan oleh Hasanoeddin Datoe Tjereweh.

    • 1763: Melle Ropia, menantu Nene Ranga yang dipaksa bercerai dari putri Ranga, bersekutu dengan Gusti Mesir Djalaloeddin Datoe Taliwang dan bangkit melawan Raja Tjereweh.

    • Intervensi Bali dan Kompeni: Dalam keadaan genting, Raja Tjereweh dan Nene Ranga meminta bantuan Goesti Ngoerah (Bali) yang datang dengan 12.000 prajurit. Kompeni juga mengirim pasukan dari Makassar. Konflik ini berakhir dengan gugurnya Melle Ropia, ditawannya Datoe Tjereweh, dan Datoe Taliwang menjadi Sultan Sumbawa yang diakui sementara.

    • Rekonflik: Perang saudara berlanjut dengan sengit, hingga pada 1766 Mappatjonga (Moestapha) dinobatkan sebagai Raja dengan kontrak baru yang mewajibkan Sumbawa membayar 350 budak sebagai biaya perang.

  • Berakhirnya Kekacauan: Pemberontakan melawan Sultan Mappatjonga Moestapha pada 1788 dengan bantuan Bali akhirnya dipulihkan oleh bantuan dari Sultan Dompu. Ketenangan baru dipulihkan pada 1790, setelah 23 tahun perang saudara.

IV. Kekuasaan Bima atas Manggarai

Sejak berakhirnya kekuasaan Goa atas Bima, kekuasaan Bima meluas hingga ke Manggarai.

  • Manggarai: Setelah berulang kali diserang pelarian Makassar (1695) dan diklaim oleh Goa (1759), Manggarai berada di bawah kekuasaan Bima setelah Bima meminta bantuan Kompeni untuk mengusir Makassar pada 1762. Meskipun sempat terjadi pemberontakan rakyat melawan pejabat Bima pada 1819, klaim Goa atas Manggarai ditolak untuk selamanya pada 1822.

Peristiwa-peristiwa ini menegaskan bahwa kestabilan politik di Pulau Sumbawa pada abad ke-17 dan ke-18 sangat bergantung pada aliansi militer dan intrik istana, dengan Kompeni secara bertahap memaksakan peran mereka sebagai pelindung dan penengah demi kepentingan kontrak dagang.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar