USM7uKzrSsmCaVoTHNCgNHTLw5k8mZOpxmzx7nna
Bookmark

Dari Lape Menuju Ke Plampang Menghadapi Pasukan Dea Ngampo (4. Zollinger Di Sumbawa Tahun 1847 Bagian Ke-14:)

Penerjemah: Poetra Adi Soerjo

Pada malam hari tanggal 17 September, utusanku kembali membawa berita bahwa Dea Sahema dan saudaranya, Dea Arong, telah berada di belakang Teluk Banga. Mereka telah menungguku dengan orang-orang bersenjata. Aku pun segera menuju ke tempat itu dan berlabuh. Kapal-kapal yang membawaku dari Sumbawa aku suru kembali ke Sumbawa. 

Sekarang aku pergi ke tanah Lape, tempat tinggal Dea Arong. Tanah Lape tidak berani dimasuki oleh orang-orang Sultan. Karena menjadi basis pasukan Dea Sahema yang sedang berselisih dengan Sultan dan Ranga. Lape menolak menjalankan perintah Sultan. Demikian dengan Lopok yang masyarakatnya terbelah dua antara pro dan kontra Sultan. 

Jalan menuju ke Lape menyusuri dataran berdebu, ditutupi oleh semak-semak berduri dan tanaman rambat. Jalannya penuh dengan batu vulkanik bekas letusan Tambora. Sehingga kuda-kuda kami kesulitan melewati batu-batu tajam. Tidak ada air tawar yang bisa ditemukan, bahkan sungai Lape kering. Untuk mendapatkan air, orang-orang harus menggali lubang yang dalam di sungai. 

Di tempat singgah, aku menunjukan kepada saudara-saudaraku sebuah mikroskop. Aku memperlihatkan mereka bagaimana rupa asli kutu di bawah mikroskop. Itu membuat mereka begitu takjub.

Aku kemudian mengirimkan utusan untuk menyampaikan pesan kepada Dea Ngampo di Plampang. Memintanya untuk menyiapkan kuli dan kuda untukku pergi ke Brang Rea. Agar aku bisa langsung pergi menuju Ampang tanpa harus memutar jauh ke Plampang. 

Sekembalinya utusan tersebut membawa pesan Dea Ngampo. Bahwa dengan sombong Dea Ngampo mengatakan telah datang perintah dari Dea Ranga di Sumbawa. Di mana Dea Ranga melarangnya untuk memberikan aku bantuan. Dea Ngampo kemudian menyampaikan pesan pribadi dari nya. “Jika membutuhkan kuli, silahkan pergi cari sendiri” 

Mendengar jawaban itu, Dea Sahema murka. Segera Dea Sahema mengumpulkan seluruh pasukannya dan mempersenjatai mereka. Dea Sahema menyiapkan pasukan untuk segera menyerang Plampang dan menangkap Dea Ngampo. 

Aku lalu menasehati Dea Sahema, untuk mengurungkan tindakan itu. Aku mengatakan padanya bahwa aku datang ke Sumbawa tidak untuk berperang. Aku kemudian minta tolong agar pasukan Dea Sahema yang membawa barang-barangku ke Brang Rea. Dengan menghela nafas Dea Sahema menyetujui hal itu. 

Dea Sahema kemudian meminta aku membuat surat keterangan tertulis. Bahwa Dea Sahema telah memperlakukan aku dengan sangat baik di Sumbawa. Dan bahwa Dea Sahema adalah sahabat baik dan tulus pemerintah Belanda. Surat itu kemudian aku beri Cap, yang mungkin akan diwariskan sampai ke anak cucunya. Akupum menyampaikan salam perpisahan dengan Dea Sahema dan Dea Arong di Lape.

Pada tanggal 19 September, aku meninggalkan Lape lebih awal. Aku hanya pergi bersama dua orang asistenku ditemani seorang komandan pasukan Dea Sahema. Sementara barang-barangku langsung di bawa menuju ke Brang Rea oleh kuli yang disiapkan Dea Sahema. Aku pergi menuju Plampang melalui Labu Kolong. Di Labu Kolong aku berhenti untuk mempersiapkan senjata dan mengisi proyektil. 

Sampai Plampang aku langsung bergegas masuk melalui pintu gerbang. Tampaknya para penduduk sudah tahu sikap Dea Ngampo. Mereka sudah siap dengan segala konsekwensi yang akan mereka hadapi. Melihat kuda kami berderap memasuki pintu gerbang, anak-anak dan perempuan langsung berlarian berkumpul menuju lapangan. 

Sampai dalam kampung aku berhenti dan mengirim utusan untuk menyampaikan pesan ke rumah Dea Ngampo. Tak lama kemudian Dea Ngampo datang bersama ratusan pasukannya lengkap dengan busur tanah dan senjata. Kami hanya bertiga, dan aku menghadapi mereka semua dengan tenang. 

Kepada Dea Ngampo aku mengatakan. Apa yang membuatnya memberikan jawaban kasar pada hari sebelumnya. Pada awalnya Dea Ngampo menyangkal bahwa bukan seperti apa yang aku dengar jawaban asli dari nya. Dea Ngampo menyampaikan bahwa ini semua hanyalah sebuah kesalahpahaman. 

Aku kemudian menatap matanya dengan tajam sembari mengeluarkan horoskop dari saku, waktu menunjukan pukul setengah sembilan pagi. Aku kemudian berkata: “Jika pada pukul sebelas tepat, belum ada 30 orang dan 7 kuda keluar dari desa menuju Brang Rea. Maka aku nyatakan dengan lantang di sini di hadap anda sekalian, bahwa kalian bukanlah sahabat pemerintah, dan di detik itu pula pesan akan sampai kepada Gubernur Sulawesi dan Gubernur Jenderal Batavia. Kapal Vesuvius milik Yang Mulia Sri Raja Belanda telah berada di perairan Pulau Moyo. Mereka akan aku minta untuk menyerang dan meluluhlantahkan kampung ini serta mencelakakan seluruh penduduknya.”

Suara anak-anak dan perempuan yang berkumpul di lapangan masih terdengar riu


Situasi Seputar Kota Sumbawa

Zollinger dalam laporan perjalanannya ke Sumbawa menuliskan. Kota-kota dan desa-desa utama di negara ini adalah, dari utara: Mata, dikelilingi benteng dengan rumah sekitar 40 - 50 buah yang terpencar di beberapa dusun. Terletak di lembah yang subur, 2½ jam dari Teluk Sumbawa dan 1½ dari Laut Selatan, dan 471 kaki di atas permukaan laut. Mata Loka terletak sedikit lebih ke samping yang dimusnahkan perompak. Penduduk Mata lebih mirip dengan orang Dompo daripada orang Sumbawa dalam hal bahasa dan adat istiadat. Mereka juga lebih banyak bergaul dengan orang Dompo. 

Ampang, berada di dataran Teluk Sumbawa dengan sekitar satu jam perjalanan dari Labu Ampang. Kampung in cukup besar dan dikelilingi benteng. Ada sekitar 200 rumah yang letaknya berdekatan sehingga jika terjadi kebakaran, seluruh desa bisa dilalap api. Di Ampang tinggal seorang Raja Muda, yaitu kepala suku yang otonom yang disebut dengan Dea Kroya. 

Ampang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Sumbawa yang berada di Teluk Ampang, ramai di datangi orang dari Sumbawa dan luar pulau. Sementara di Labu Haji, beberapa nelayan dan orang badjo tinggal di gubuk-gubuk yang memprihatinkan. Dari Ampang, ada beberapa jalan menuju Plampang.

Jalur selatan melewati desa-desa Lamenta dan Boal. Plampang terletak di kaki Jaran Pusang di lereng tanjung yang landai, dan berada sekitar 100 kaki di atas permukaan laut. Dari situ jarak 2 jam perjalanan ke arah utara terdapat Teluk Kolong. Desa ini tidak terlalu dibentengi dengan baik, kurang rapi dan teratur seperti Ampang, tetapi hampir sama besarnya. Desa ini juga dipimpin oleh seorang Raja Muda.

Lapie, satu hari perjalanan lebih jauh ke arah barat laut di dataran atau lebih tepatnya di tanah yang tertutup sisa-sisa gunung berapi di Jaran Pusang, terletak 1½ jam atau lebih jauh dari teluk Kuris, tempat beberapa gubuk nelayan berada. Desa ini berada di bawah kepemimpinan Dea Arong, seorang kepala suku yang hampir otonom. Desa ini memiliki lebih sedikit rumah dibandingkan Ampang; namun, jaraknya jauh lebih jauh, sehingga desa yang dibentengi dengan baik ini mencakup area yang jauh lebih luas. 

Dea Arong sengaja merobohkan sebagian rumah-rumah dan menempatkannya berjarak untuk mencegah terjadinya kebakaran besar. Lebih jauh ke dalam pegunungan juga terdapat beberapa desa dan dusun milik Lape. Antara lain desa bawahan Lape adalah Lopok yang kumuh dan kurang dibentengi. Jaraknya 2 jam lebih jauh ke arah Barat (lihat Bab pendahuluan). 

Sumbawa adalah kota utama di mana Tuan Melvill mencatat lokasinya berada pada 117° 25' BT dan 8° 28' LS. Terletak di terletak sebuah lembah yang dilintasi sungai yang subur di kaki perbukitan yang gersang, dan berjarak setengah jam dari Rhe dan teluk ke arah Barat Laut. 

Di dalam pusat utama Kota Sumbawa terdapat 400 rumah, yang kotanya di kelilingi oleh benteng, parit dan pagar dengan banyak pintu gerbang untuk masuk ke dalamnya. Bagian dalam benteng dilapisi dengan batu-batu berundak, namun saat ini kurang terawat. Pohon-pohon ditanam di sepanjang benteng (sebagian besar adalah Sterculia foetida) dengan jarak yang sama, yang mungkin sengaja ditanam untuk tujuan pertahanan, karena juga masih difungsikan sebagai menara pengawas hingga saat ini. 

Di dalam kotanya sangat kotor, dan di musim panas orang hampir mati lemas karena pasir dan debu. Masjid berukuran besar berada di pusat kota tapi tidak semenonjol Istana Sultan yang berada di seberangnya yang lebih tinggi. Istana dikelilingi oleh benteng tembok yang sudah mulai runtuh. 

Pasar di gelar setiap malam di dekat Masjid yang ramai dipenuhi orang-orang yang pulang dari Masjid. Itulah yang membuat aktivitas warga diseitar Masjid selalu ramai. Tapi pasar malam ini bukan untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Yang dijual hanyalah barang-barang kecil yang dibutuhkan oleh penduduk asli, seperti sirih, gambir, kue dan sejenisnya. Bersebelahan langsung dengan itu adalah kampung Dea Sahema, yang benar-benar terisolasi dan sama-sama dibentengi. Sehingga kedua kampung itu terletak secara berhadap-hadapan seperti posisi berhadapan dengan musuh. 

Kampung terdekat dari pusat kota Sumbawa dalam perjalanan menuju Rhee terdapat kampung Bugis, yang panjang dan terbuka, memiliki lebih dari 200 rumah. Dan di sepanjang pantai terdapat rumah-rumah pedagang Arab dan beberapa rumah nelayan. Di lembah sekitar Kota Sumbawa masih terdapat banyak desa dan dusun kecil. Di antaranya desa Sumung (Lihat Bab II bagian 1e) yang terletak di 2.340 kaki di atas permukaan laut.

Lalu Kampung Rhe yang berada di lembah yang sangat indah, di sebuah tepi sungai dan di kaki gunung dengan nama yang sama. Jaraknya hampir satu jam dari kota. Kampung ini berisi 40-50 rumah. 

Selanjutnya Utan, berada di tepi sungai dengan nama yang sama, berjarak 1 jam dari laut. Kampung ini tidak dibentengi dengan baik tapi lebih besar dari Rhee. Di sini, aku memperhatikan kebiasaan di Sumbawa di mana mereka menguburkan orang yang mati di tengah desanya sendiri. Tiga perempat dari ruang yang dulunya dihuni oleh penduduk, sekarang penuh ditutupi kuburan. Sehingga sekarang penduduk tinggal dan bekerja di antara kuburan. 

Dari Utan di sepanjang laut, terdapat kerumunan desa-desa, semuanya dihuni oleh orang asing (Bugis, Makassar dan Orang Badjo) yang terkenal dan ditakuti sebagai orang jahat di seluruh negeri karena banyak perompak yang bersembunyi di sana. Desa-desa tersebut adalah Labu Bua, Labu Pade, Lebbo, Panyorong, Laboe Buer dan masih banyak lagi. UNtuk kampung Buer jangan disamakan dengan Labu Buer, ereka adalah dua hunian yang berbeda. Buer dihuni oleh penduduk Sumbawa asli, yang dibentengi dengan baik. Terletak di lembah Gunung Ngengas, satu jam perjalanan dari laut. Buer adalah kampung yang cukup besar. 

Selanjutnya kampung Alas, dengan tiga desa di Teluk Allas yang dihuni oleh Orang Bajo. Alas juga membawahi beberapa desa di pegunungan. Alas termasuk daerah otonom dan menganggap dirinya merdeka dari Sumbawa. Penguasanya disebut Demong Alas. Kota utama Alas terkurung daratan, terpisah dari teluk, yang berjarak satu jam perjalanan, dipisah oleh sebuah bukit. Kota ini dibentengi dengan baik dan memiliki ratusan rumah. 

Setelok, bersama dengan desa-desa di sekitarnya, juga menganggap dirinya otonom dari Sumbawa. Penguasanya disebut dengan Datu Seteluk. Kampung ini terletak di lembah yang subur, dipisah laut oleh pegunungan Mantar yang dapat ditempuh dalam waktu lebih dari dua jam. Kampung ini tidak dibentengi dengan baik dan terletak di atas sungai yang kekurangan air. Ada 200 rumah di sini.

Selanjutnya Taliwang yang berada di tepi sungai besar dengan nama yang sama. Terletak di lembah yang bersih di sebelah selatan Setelok dan berjarak lebih dari satu jam dari laut. Kampung ini jauh lebih besar dari kampung lain di barat dengan rumah sejumlah 400 buah saat ini. Di masa lalu, mungkin jumlahnya dua kali lebih banyak. Saat ini, setengah dari bekas wilayahnya sudah berubah menjadi kuburan akibat perang saudara yang berkepanjangan. Benteng kampung ini sangat bobrok. Kampung ini pernah diserang oleh 12.000 pasukan Gusti Ngurah dari Bali.

Beberapa desa lainnya yang termasuk dalam wilayah Taliwang adalah Reba yang terletak di pegunungan dan berada di ketinggian 360 kaki di atas permukaan laut, dengan sekitar 29 rumah di sana. Taliwang juga menganggap dirinya sebagai daerah otonom dari pengaruh kekuasaan Sumbawa. Kepalanya menyebut dirinya sebagai Raja Desa.

Lalu Jerewe yang bpaling Selatan adalah termasuk satu dari empat wilayah dessa yang menganggap diri otonom dari kekuasaan Sumbawa di samping, Taliwang, Jerewe dan Alas. Jerewe sedikit lebih kecil dari kampung Taliwang, tetapi lebih dekat dengan laut. Orang Bajo juga tinggal di sana. Sang Raja menyebut dirinya Datu Jerewe. Kampung yang paling selatan dari semua kampung di negeri Sumbawa disebut Sekonkang yang berada di bawah Jerewe. Kampung ini kecil dan terletak di tepi laut. Masih ada beberapa kampung kecil lainnya di pedalaman.

Mengenai Desa Mogen yang berada di 977 kaki diatas permukaan laut, Desa Kalans, Desa Semamoeng dan lain-lain, lihat Bab Pendahuluan bagian 5. 

Dari gambaran umum di atas, Anda akan melihat bahwa sebagian besar kota-kota besar di Sumbawa dibentengi dan tidak terletak di pantai. Rata-rata jaraknya 1-3 jam perjalanan dari pantai. Hal ini adalah konsekwensi dari perang saudara yang begitu sering terjadi dan ketakutan akan bajak laut yang begitu lama mendominasi negara ini. Desa-desa yang erada paling dekat dari pantai menjadi daerah yang paling menderita. Untuk itu dipindahkan lebih jauh ke pedalaman. 

(Catatan Penerjemah: Tahun 1847 adalah masa 10 tahun pemerintahan Sultan Amrullah. Situasi pemerintahan belum stabil pasca fakum kekuasaan selama 21 tahun tanpa Raja (1816-1837) akibat letusan Gunung Tambora. Sultan Amrullah tahun 1847 baru di masa konsolidasi kembali kekuasaan pasca fakum yang memberi ruang bagi banyak daerah mengatur sendiri pemerintahannya. Untuk itulah banyak daerah yang menganggap diri otonom dari Sumbawa. Untuk melihat situasi pasca perjalanan Zollinger harus membaca buku J. Noorduyn berjudul Bima En Sumbawa yang sebagian babnya sudah diterjemahkan menjadi buku oleh Muslimin Yasin. Di buku itu tercatat berdasarkan laporan Ligtvoet bahwa daerah daerah yang mengaku independent terhadap Sumbawa, pemmpinnya dihukum oleh Sultan dengan kekerasan. Di antaranya penguasa Seteluk dihukum bunuh di hadapan public dengan dipukul menggunakan kayu tumpul. Lalu Demong Alas yang tidak sampai dihukum mati karena mendapat back up diplomatik dari Sultan Bima. Sementara Taliwang dan Jerwe langsung tunduk mengikuti perintah Sultan. Untuk Lape dan Lopok ferakan anti Sutan langsung memudar setelah Dea Sahema wafat. Sementara Ampang dan Plampang pengertian otonom bukan berarti melepas diri dari pengaruh Sumbawa namun berdasarkan sejarah asli. Mereka tidak pernah menentang Sumbawa).

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar