Dari Sumbawa, Menjelajah Kembali Dompu Bima Untuk Kembali Ke Makasar ( 5. Zollinger Catatan Perjalanan 1847)
Penerjemah: Poetra Adi Soerjo
Pada tanggal 20 September aku tinggal di Ampang, aku berkeling ke daerah sekitarnya. Lalu berangkat di malam hari menuju ke pantai yang berjarak sekitar satu jam perjalanan, tempat di mana aku akan berangkat. Orang-orang dan barang-barang mulai dinaikan ke atas dua buah perahu dan dua sampan kecil. Saat semuanya tuntas, kami pun mendayung di malam hari di bawah terang sinar bulan. Kami menyusuri kaki pegunungan di belakang Pulau Rakit sampai ke Labu Kowanko, kemudian berbalik dan berlayar ke Teluk Gempo yang terletak di daerah Dompo. Kami tiba dengan selamat di pagi hari tanggal 21. Di sana aku bertemu dengan Letnan Gubernur baru bernama Tuan Sapteno yang akan berangkat menuju Sumbawa untuk dilantik. Akupun sangat bergembira akhirnya bisa keluar dari kerajaan Sumbawa dan bebas dari segala ketidaknyamanan di sana.
Pada tanggal 22 pagi hari, sebuah gempa bumi dahsyat mengguncang kami. Pada hari yang sama aku pergi ke Dompo, di mana Sultan menerimaku kembali sebagaimana keramahan sebelumnya. Pada tanggal 23 membawa para pembesar Kerajaan, Sultan datang menemuiku. Dia ingin bersurat dan memintaku membawanya untuk Gubernur Makasar dan Batavia. Di mana dia meminta beberapa artileri, senapan dan amunisi. Dan dia akan membayarnya dengan kayu secang, dan, jika bisa ditemukan, juga dengan kuda-kuda Remonte (kuda terlatih, Pen).
Aku berjanji kepadanya untuk tidak hanya akan membawa suratnya, tetapi juga akan membantu untuk meloby pemerintah jika ada kesempatan agar permintaan itu dipenuhi. Tetapi sesuai dengan peraturan di negara itu, surat tersebut tidak selesai disiapkan sampai sebelum keberangkatanku ke Bima, jadi aku tidak dapat membawanya.
Aku akan kembali untuk surat itu di kesempatan lain. Sultan kemudian memintaku, untuk dan atas nama dirinya dan para pembesar Kerajaan, menyampaikan kepada Gubernur dan Pemerintah akan kasih sayang mereka yang tulus. Sultan berkata “Hatiku berbunga ketika mengetahui bahwa Gubernur tidak melupakan kami, kami telah dipersatukan selama lebih dari seratus tahun dan selalu berharap untuk tetap seperti itu. Itulah sebabnya aku sangat senang dengan perjalanan anda, karena ini adalah bukti bahwa kami tidak dilupakan”. Kami kemudian saling mengucapkan ucapan selamat tinggal sebagai sahabat sejati.
Sultan Dompo memiliki sebuah teleskop panjang yang sudah sangat tua, dan sebuah teropong saku biasa. Teleskop itu adalah hadiah dari zaman Kompeni, yang sudah lama tidak dibersihkan sehingga lensa-lensanya tidak bisa dilihat sama sekali. Aku kemudian membersihkannya sehingga berfungsi kembali. Itu membuat dia begitu senang. Setelah bersih aku mengarahkannya ke bulan purnama yang baru saja terbit. Sungguh mengejutkan melihat kesan mendalam yang mereka rasakan ketika melihat pemandangan itu (karena Sultan sendiri belum pernah menggunakan alat ini). Satu persatu dari mereka melihat bulan di mana mereka tampak takut melihat piringan raksasa bulan. Aku membujuk mereka dengan begitu susah untuk mau meminum anggur merah sebagai tanda perpisahan. Terutama Sultan susah sekali dibujuk. Tapi akhirnya mereka semua mau yang ternyata bagi mereka rasanya sangat menyenangkan.
Hari masih malam ketika aku meninggalkan Dompo pada tanggal 21 September diiringi sorak-sorai dan yel-yel dari para pengawal. Bahkan ada penghormatan dengan tembakan meriam saat aku pergi. Kami tiba di desa besar Silah pada pukul sembilan pagi. Aku terkejut ketika mendapati bahwa, meskipun aku telah mengajukan permohonan tertulis, ternyata tidak ada perintah dari Bima untuk membantuku. Aku pun tidak segera ke Bima, Aku memilih untuk untuk terlebih dahulu mengunjungi Goenoeng Prewa di selatan, karena di sana terdapat biji besi dan timah yang ditambang untuk membuat lembing. Aku mendapatkan kuda dan kuli di Sila, yang aku perintahkan untuk pergi ke Tente di kaki gunung yang jarak tempuhnya sekitar 2,5 sampai 3 jam.
Aku tiba di Dongo Bolo di tengah jalan, dan ternyata barangku belum sampai sana. Padahal sudah berangkat satu jam sebelumku. Aku menunggu dari jam 11 sampai jam 2 siang. Tidak ada yang datang. Akupun kembali ke Sila sendiri yang ternyata kuli-kuli itu hanya membawa barangku menyeberangi sungai lalu meletakkannya di sana, di sebuah desa kecil, setelah itu mereka kembali ke rumahnya. Jadi dalam jarak 11½ jam mereka telah berganti kuli sebanyak tiga kali, kadang-kadang selama 10-20 menit. Hal ini, menurut mereka adalah tradisi di sana. Setiap desa hanya memberikan bantuan hingga desa terdekat. Pada pukul 4 semuanya berkumpul di Dongo Bolo. Dari sini, para kuli akan melanjutkan perjalanan ke Tente dan tidak lagi berganti. Karena jaraknya hanya satu jam. Lima menit sebelum Tenteh, di desa Simili, mereka meletakkan barang-barang mereka lalu kembali pulang. Jadi kami harus mencari kuli pengganti. Di Tente, lagi-lagi cerita yang sama seperti di Lopok Sumbawa kami temukan. Mereka menolak memberikan bantuan apapun termasuk makanan, akomodasi, dll. Mereka menunjukkan pada ku sebuah rumah sawah untukku bermalam.
Tepat saat aku hendak mencari segala apa yang aku butuhkan, ternyata perintah dari Bima barulah tiba. Tetapi di keeseokan paginya aku tetap tidak dapat mendapatkan pemandu, kuda, dan peta jalan. Hari pun mulai malam, dan karena terpaksa, aku mengurungkan niat untuk pergi ke Gunung Prewa dan kembali ke Bima di hari yang sama. Aku kembali pada sore hari tanggal 25 September, setelah 54 hari aku pergi meninggalkan Bima sebelumnya. Dan di Belo aku kembali mengalami penolakan, penduduk tidak mau membantuku.
Sesampai di Bima, aku segera memberi tahu Sultan tentang semua yang telah terjadi di negaranya dalam perjalanan pulang. Aku mengeluh dengan keras dan menuntut agar dia menghukum mereka yang bersalah. Ternyata, seperti biasa, dia telah memberi perintah pada para pelayannya. Tetapi para pelayan yang menerima perintah tersebut, karena asik menghisap opium di sepanjang hari, maka di hari berikutnya tidur sepanjang hari dan lupa memenuhi perintah Sultan. Hal-hal seperti itu adalah bagian dari kejadian sehari-hari di Bima. Pada kunjungan berikutku menemui Sultan, Aku menyampaikan kepadanya betapa disayangkan situasi di negaranya di mana mana orang-orang kecanduan menghisap candu dan lalai dengan segala produktifitas bahkan terhadap perintah Sultan. Dia sepenuhnya setuju denganku akan bahaya candu di negaranya. Dengan serius ia mendengar keteranganku tentang bahaya candu sembari terus menghisap candu bersama para pelayannya, yang pastinya penjelasanku tak sepenuhnya dipahami. Mereka mengirim orang ke Gunung Prewa untuk mengambilkan bijih besi dan timah untukku. Mereka membawakan aku bongkahan batu berwarna putih (opal).
Agar tidak jatuh sakit lagi di Bima, aku memutuskan untuk tinggal di pusat kota Bima hanya untuk menuliskan catatan perjalanan dan laporan jurnal. Pak Beth jatuh sakit dan mengatakan bahwa dia tidak bisa lagi melakukan perjalanan yang melelahkan. Oleh karena itu aku mencari seorang pemandu lain yang masih muda.
Pada tanggal 28, aku kembali terserang demam kecil. Namun demikian, aku tetap melanjutkan perjalanan ke Sape. Kali ini para kuli sudah siap di mana-mana, kecuali di satu desa, yang lagi-lagi aku mengalami kesulitan. Aku juga membawa serta mantri-mantri Sultan, yang membantu dan menolongku di mana-mana. Di setiap desa, meskipun hanya seperempat jam perjalanan, kuli-kuli harus diganti. Agar tidak kehilangan terlalu banyak waktu, aku hanya mengizinkan hal itu dengan catatan, harus sudah ada kuli yang sudah siap menunggu di desa berikutnya untuk langsung melanjutkan perjalanan. Aku melintasi lembah Bima yang subur, indah dan padat penduduk menuju kaki dataran tinggi di Gunung Waba, tempat aku tiba dan sarapan pada pukul empat pagi.
Kami melanjutkan perjalanan dan mulai memasuki jalan panjang melewati bukit-bukit tandus dan kering, hingga mencapai lembah Sape di sisi timur, di sini tanah digarap dengan baik. Sekitar pukul dua siang aku tiba di Sape, yang mungkin merupakan kampung terbesar di negara ini. Aku disambut dengan sangat baik dan ditampung di sebuah “Roemah kompanie” yang besar dan sudah tua.
Pada tanggal 1 Oktober, ditemani oleh lebih dari 40 orang bersenjata, aku meninggalkan Sape pada pukul 4 pagi. Ini untuk antisipasi menghadapi bajak laut, yang terkadang bersembunyi di teluk yang kami lewati. Kami mengelilingi lereng Pegunungan Maria, yang membentang ke laut, dan kadang-kadang melewati punggung bukit yang tinggi, lalu menyusuri sekitar teluk yang tersembunyi di antaranya. Kami berhenti di mata air Loka di sungai Tenge. Di sini kami harus bermalam, karena tidak ada air yang bisa ditemukan lebih jauh. Namun, karena saat itu baru pukul satu. Jadi aku bertanya kepada para kuli apakah mereka ingin melanjutkan atau istirahat di sini. Lanjut atau tidak aku serahkan sepenuhnya ke mereka. Dengan serempak mereka menjawab lanjut hingga sampai di Wera. Jadi kami melanjutkan melintasi dataran berumput yang kering, jarang sekali dinaungi pepohonan, di mana terdapat kerumunan kuda dan kerbau yang luar biasa. Baru setelah matahari terbenam, kami sampai di desa besar Wera, di mana aku hanya menghabiskan satu malam di sana.
Pada tanggal 22 kami pertama-tama naik melalui sebuah lembah dan kemudian melewati Gunung Tjewoe yang curam, sebuah punggungan tinggi yang merupakan bagian dari Pegunungan Maria dan memanjang hingga ke laut. Di sisi lain kami turun ke lembah Ralea yang dalam dan indah, yang memisahkan dua gunung Mongo Lewi dan Maria, yang satu di sebelah timur, dan yang lainnya di sebelah barat. Kami hampir selalu naik dan turun gunung, melewati punggungan yang panjang dan curam yang ditutupi dengan kayu Jati. Setelah melintasi punggung bukit Lela yang tinggi, kami memasuki sebuah lembah di sisi lembah Bima yang besar, di mana kami tiba lagi pada pukul lima sore. Beberapa kepala kampung, yang telah menerima dan memperlakukanku dengan buruk sebelumnya datang ke sana. Mereka telah dihukum oleh Sultan untuk datang menemuiku minta maaf atas perlakuannya yang tidak pantas.
Aku bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke daerah pegunungan Dompo, di sebelah barat Teluk Bima. Belum pernah ada orang Eropa, atau Letnan Gubernur Bima, atau bahkan warga Bima, yang berani mengunjungi daerah ini. Orang-orang saling bercerita tentang hal-hal horror terkait wilayah ini dan penduduknya, terutama tentang setan gunung yang ada di sana yang memusuhi orang Eropa. Dikatakan aku pasti akan tersesat jika berani ke sana. Mereka juga mengatakan aku akan dibunuh oleh setan gunung, atau saat kembali akan mati. Dengan susah payah aku mencari seorang pendamping, sistenku sebelumnya sakit parah karena perjalanan melelahkan ke Sape dan Wera.
Pada tanggal 7 Oktober aku naik gerobak ke Belo, selatan Bima, dari sana aku melanjutkan perjalanan ke Tente. Kali ini aku diterima dengan sangat baik. Aku tidak tinggal lama, setelah sarapan pagi melaju ke kaki selatan Pegunungan Prewa, yang lerengnya kami daki beberapa ratus kaki, dan dengan menyusuri sungai sampai ke tempat di mana Biji Besi dan Timah ditemukan. Aku langsung mengenali tempat gundul dan berbatu itu sebagai solfatara yang terbakar, yang tidak hanya terlihat dangkal, tetapi juga kerak belerang murni, sebuah trakit berwarna alumina yang terlarut, dan akhirnya sebuah mata air, yang darinya air mineral mengalir setetes demi setetes. Bijihnya menurut penyelidikan Tuan Maier di Batavia, adalah belerang-besi. Itu terdapat dalam bentuk lapisan yang sangat tipis, tercampur dan terdispersi dalam cairan trakit seperti rajutan. Aku hanya menemukan dua lapisan setebal satu jari. Bijih besi ini tentu saja merupakan formasi yang relatif sangat baru, setelah ditambang pada periode terakhir operasi solfatara Prewa. Kemungkinan jumlah besi dalam kokas belerang merupakan bagian dari trakit, yang terikat dengan belerang dari gas buangan selama pelarutan dan diendapkan sebagai kokas belerang.
Aku tidak tinggal lama di areal solfatara ini, dan melanjtkan perjalanan ke Sila, di mana aku tiba di malam hari. Pada tanggal 8, aku mendaki ke pegunungan hingga ke desa pegunungan tinggi Padjo, di kaki gunung dengan nama tersebut, yang puncaknya di sebelah tenggara disebut Aroe Hassa.
Aku langsung melihat bahwa aku berhadapan dengan orang-orang baik, yang jauh dari kesan jahat dan berbahaya, seperti yang diceritakan di Bima, mereka bahkan seperti anak-anak. Padjo adalah salah satu desa yang dihuni oleh Orang Dongo. Aku melakukan persiapan untuk mendaki Aroe Hassa dan mencari tanaman di daerah sekitarnya. Aku menemukan pohon yang disebut Semecarpus Anacardium dalam dunia botani atau disebut Kayu Ringies oleh penduduk asli. Aku menginginkan cabang-cabangnya yang hidup. Orang-orang yang bersamaku menolaknya, mereka berkata pohon itu mengandung getah yang tajam dan berbahaya yang dapat membakar kulit. Aku tidak percaya dan memotong dahannya sendiri, tanpa terluka. Takjub, mereka semua berteriak bahwa aku bukanlah manusia melainkan “Dewa”. Aku mendengar, bahwa getah ini benar-benar beracun dan membuat kulit menjadi memar biru bernanah jika terkena. Seperti halnya getah beberapa spesies Rhus, tetapi itu tidak berlaku pada semua manusia. Suatu kebetulan bahwa imunitas tubuhku tidak rentan terhadap efeknya. Hal itu aku jelaskan ke mereka tetapi tetap saja mereka menyebutku bukan manusia dewa.
Keesokan harinya, aku mendaki Aroe Hassa, yang bahkan belum pernah didaki oleh penduduk asli. Sayangnya, ketika kami sampai di puncak, cuaca mendung dan aku tidak bisa mengambil memandang dari puncak tertinggi di kerajaan Bima ini. Kami menemukan seekor bayi rusa yang ditinggalkan oleh induknya. Pemandu melihat ini sebagai bukti lebih lanjut bahwa aku adalah manusia dewa karena roh gunung telah memberi aku rusa sebagai hadiah. Sore harinya aku meninggalkan Padjo, mengelilingi pegunungan di sisi selatan dan sampai di Mangeh, juga sebuah desa di pegunungan, yang terpisah dari Embawa yang lebih tinggi oleh sebuah jurang yang dalam di mana sebuah aliran sungai gunung menyembur.
Masyarakat Mangeh, seperti halnya masyarakat Padjo, sebagian besar telah kehilangan identitas aslinya, dan sebagian lagi telah berbaur dengan masyarakat dari dataran rendah. Di Embawa, di sisi lain, dan di desa-desa yang aku lewati lebih jauh, orang Dongo yang asli masih hidup. Aku juga diterima dengan sangat baik di Mangeh, dan sulit menolak semua hadiah yang mereka berikan kepadaku seperti: ayam, buah, jagung, biji kemiri, dll. Para pemandu Sultan, berani meminta hadiah dan bahkan uang atas namaku dan Sultan. Aku memaksa mereka untuk mengembalikan barang-barang tersebut dari penduduk miskin dan tampak takut agar mendapatkan kasih sayang dan kepercayaan dari mereka. Para penduduk itu saling berbisik bahwa aku datang untuk mengambil tanah mereka karena Kompeni ingin mengambilnya. Mereka senang dengan itu, dengan demikian mereka bisa mengakhiri ketergantungan mereka terhadap Sultan dan para petinggi kekaisaran. Mereka bersuka cita karena barang-barangnya dikembalikan. Aku sama sekali tidak mau ikut campur dalam pembicaraan tersebut.
Pada tanggal 10, aku melanjutkan perjalanan di lereng gunung. Sekarang selalu melintasi punggungan yang curam, di antaranya ada banyak lembah yang dalam dan sempit, tempat mengalirnya sungai-sungai dari gunung yang banyak di antaranya mengering. Di punggung-punggung bukit yang tinggi di atas sungai-sungai itu beberapa desa. Di Oö tidak ada wanita maupun anak-anak yang terlihat. Mereka telah melarikan diri atau mengurung diri. Di Kananta dan Toenta mereka tidak terlalu takut. Dari desa terakhir ini, aku turun lagi ke laut, dan menemukan apa yang disebut sebagai gua Portugis, atau Batoeh Pah. Warga Bima dan beberapa petinggi kerajaan tampak sedang asik berburu dan memancing sembari menungguku. Malam harinya aku kembali bersama mereka dengan perahu Raja Bicara.
Sejak saat itu aku mulai menyibukkan diri dengan mengemasi barang-barang yang telah aku kumpulkan, sembari mengumpulkan dokumen dan segala informasi tentang perdagangan, sejarah dan bahasa di negeri itu. Aku tidak melakukan perjalanan lagi sembari menunggu sebuah kapal dari Makassar yang akan menjemputku sesuai dengan permintaan yang aku ajukan kepada gubernur di sana dan janji persahabatan yang dibuatnya. Tidak ada lagi kesempatan untuk pergi ke Jawa, dan karena musim barat yang semakin mendekat, hal ini tidak bisa diharapkan lagi.
Raja Bicara mengadakan pesta lainnya, di mana aku berkesempatan untuk belajar tentang cara menari dan bernyanyi di negara ini. Dua kali aku berlayar ke pulau Pulau Kambing di dekatnya, di mana aku menemukan banyak sekali tanaman laut yang sangat langka.
Aku melakukan kunjungan perpisahan dengan Sultan dan meminta izinnya untuk berlayar ke Makassar dengan kapal “Boerong Laut”. Sultan segera menyetujuinya. Kapal dari Makasar tidak kunjung tiba hingga tanggal 20 Oktober. Aku menandatangani dokumen perjalanan dengan Syahbandar.
Pada tanggal 22, aku meninggalkan Teluk Bima. Kapal kami penuh sesak dengan orang dan barang. Angin sangat mendukung. Namun, karena tidak ada seorang pun di kapal yang terlalu peduli dengan jalannya kapal -juragan tertidur atau menghisap candu- dan setiap pelaut mengemudikan kapal semaunya. Pada tanggal 23 kami berlayar di antara apa yang disebut Kepulauan Postillons, di mana kami pertama kali berhasil mencapai tujuan pada tanggal 24. Ketika aku mengetahui bahwa kapal akan menuju Saleijer, aku mengambil alih komando kapal, dan pada tanggal 25 aku cukup beruntung untuk membawanya ke arah yang benar dari sudut barat daya Celebes.
Pada malam yang sama kami tiba di pelabuhan Makassar, di mana aku mengetahui bahwa Kapal penjemputku telah berlayar ke Bima. Kapal itu menempuh perjalanan panjang, singgah di Barie, dan baru tiba di Bima justru setelah aku berangkat tinggalkan Bima.
