USM7uKzrSsmCaVoTHNCgNHTLw5k8mZOpxmzx7nna
Bookmark

Catatan Perjalanan di Dompu

 


(Penerjemah: Poetra Adi Soerjo)

*CATATAN PERJALANAN ZOLLINGER DI DOMPU TAHUN 1847*


Pada tanggal 4 Agustus kami melanjutkan perjalanan ke Dompo. Kesulitan terbesar yang kami hadapi di sini adalah untuk mendapatkan kuli. Segala sesuatu dibawa oleh kuda dan kerbau. Di samping itu orang-orang berjalan kaki atau kadang-kadang menungganginya. Penyebab masyarakat di sini tidak terbiasa membawa beban berat adalah karena cepat lelah akibat panas yang sangat terik, ditambah dengan minimnya air di jalan. Jalan-jalan rusak dan banyak batu tajam yang panas berserakan di atasnya. Jika kami meninggalkan barang-barang di belakang untuk disusul, maka barang-barang itu tidak akan tiba hingga malam hari. Oleh karena itu aku memutuskan, betapapun beratnya untuk tetap jalan bersama dengan mereka. Keadaan lain yang menyebabkan banyak kesulitan di sini adalah karena kuda-kuda yang akan digunakan harus ditangkap terlebih dahulu dari alam liar. Dan orang-orang pun harus dipanggil paksa meninggalkan sawah mereka untuk mengangkut barang. Aku menolak hal yang demikian. Dengan pendekatan yang lebih humanis biasanya aku bisa menyelesaikan masalah tersebut. 


Di sisi lain, aku berusaha membuat segala sesuatunya menjadi mudah bagi mereka yang membantu aku dalam perjalanan. Aku bertindak sesuai dengan misi dari proyek ini dengan membayar mereka. Sudah menjadi kebiasaan lama di negara ini, orang tidak dibayar ketika bekerja untuk melayani Kesultanan. Sementara aku, di sisi lain, membayar kuli dan alat angkut secara proporsional sesuai dengan jarak yang ditempuh juga atas lelah keringat yang mereka keluarkan. Mereka sangat terkejut dengan hal ini dan sering kali tidak berani menerima upah yang aku tawarkan. Mereka menyiapkan rumah-rumah terbaik terbaik di kampung-kampung untuk kami. Ketika meninggalkan rumah tempat menginap di pagi hari, biasanya aku memberikan beberapa hadiah kecil sebagai kenang-kenangan kepada pemilik rumah. Kadang berupa uang, kadang berupa pisau, gunting, jarum, rempah-rempah, atau yang sejenisnya. 


Pada hari yang sama, tanggal 4 Agustus, aku melintasi pegunungan Woo Sahe (leher kerbau) di sebelah barat. Pegunungan ini menurun tajam ke dataran Dompo. Aku memberitahukan kedatanganku kepada Sultan. Dan pada malam harinya surat Gubernur Jenderal diterima, dibaca, diberi hormat, dan disambut dengan khidmat.


Segera setelah itu aku dibawa ke hadapan Sultan, yang menerimaku dengan begitu hangat di pelataran Istana. Semua upacara penyambutan di sini dilakukan dengan cara yang sama persis dengan apa yang dilakukan di Bima. Hanya saja bedanya di sini, Sultan melakukan kunjungan balik langsung di malam yang sama. 


Sultan Dompo adalah seorang pria paruh baya dengan tubuh yang tinggi dan badan yang gempal. Ia memiliki bopeng (bekas luka) di wajahnya. Dia tidak terlalu bisa berbahasa melayu, hanya sedikit. Perawakannya sangat bijaksana dan tampak cerdas. Ia adalah seorang yang sangat mencintai negaranya. Dia tidak meminum minuman keras dan hanya sedikit menggunakan opium. Tapi keterangan lain menyebutkan bahwa ia sama sekali tidak menghisap opium. Dalam pidato sambutannya Sultan menyampaikan:


“Oleh karena itu, Aku sangat senang anda datang bisa berkunjung ke sini. Dengan demikian anda bisa mengabarkan kepada Gubernur Jenderal Hindia di Batavia betapa menyedihkan keadaan kami di sini. Dan betapa menderitanya penduduk negeri ini akibat letusan gunung Tambora. Kami sepenuhnya bergantung kepada pemerintah, dan jika pemerintah tidak mau membantu kami, kami tidak bisa melakukan apa apa atas situasi sulit ini. Jika anda menjelaskan secara jujur tentang apa yang anda lihat di negeri ini, kami yakin pemerintah akan membantu.”


Di Dompo terdapat sebuah rumah (disebut roemah kompanie), yang secara khusus digunakan sebagai tempat bagi para utusan pemerintah menginap. Namun ternyata sebuah rumah yang lebih besar telah disiapkan untukku yang dilengkapi dengan segala perabotan, di mana ada sebuah meja dan dua kursi hadiah dari VoC. Ini adalah barang yang jarang ditemukan di negeri ini. Keranjang-keranjang penuh makanan telah disiapkan terdiri dari kambing, rusa, dan wortel. Seperti biasa, aku membagikan hadiah yang sama kepada para kuli, penjaga dan pelayan. 


Pada tanggal 11 agustus, dengan langsung didampingi Sultan, aku melakukan tur ke teluk Tjempie di selatan, tempat banyak mutiara. Sultan juga mengatur agar aku bisa memancing ikan di sana. Kami mengambil banyak kerang, tetapi mutiaranya masih terlalu muda. Setelah memancing, kami berburu di perjalanan pulang. Sungguh pemandangan yang menyenangkan melihat orang-orang bertelanjang dada berlarian menggunakan kuda-kuda kecil tapi begitu kuat dan kencang mengejar buruan. Sorak-sorai terdengar di sekeliling kami, terutama ketika kami kembali memasuki Dompo. Sorak-sorai atau lebih tepatnya teriakan melengking ini adalah sambutan penghormatan yang hanya diberikan kepada tamu-tamu terhormat.


Malam harinya, Sultan kembali mengunjungiku dan menunjukkan mangkuk emas dan perak. Inilah barang warisan dari buyutnya yang diterima dari VoC sebagai hadiah atas kesetiaan dan jasa-jasanya. Piring-piring tersebut telah menjadi ornamen dan pusaka kerajaan, yang disimpan dengan penuh hormat, dan dipamerkan dengan penuh rasa bangga. 


Pada tanggal 6 agustus, aku melalui lembah di sepanjang sungai Dompo. Lembah itu mengarah ke sebuah tanah pegunungan yang indah tapi sunyi. Di sana masih ada sawah dan saluran irigasi hingga saat ini. Dahulunya dibangun oleh penduduk yang kini telah punah akibat letusan Tambora. 


Pada malam harinya, aku kembali menerima kunjungan resmi dari Sultan dan para pembesar kerajaan sebagai acara perpisahan. Raja Bicara, seorang pria yang sudah sangat tua dan tidak bisa berbahasa melayu bertanya kepadaku dalam pidato sambutannya. Apakah aku puas dengan segala penyambutan dan pelayanan selama kunjunganku di Dompo. Akupun mengucapkan ucapan terimakasih mendalam atas segala penerimaan yang diberikan. 


Pada tanggal 7 Agustus aku berangkat lebih awal ke Sanggar. Jalan yang dilalui melewati pegunungan Doro (Sirih), dan kemudian di sisi lain melewati daerah berbukit, yang sebagian besar ditutupi oleh alang-alang.


_*Bersambung menuji Sanggar,,,*_

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar