Perjanjian Sultan Abdul Kahir dan Orang Wera
daerus
... menit baca
Perjanjian dengan orang Wera pada galibnya ialah dokumen
pangakuan sebagai tanda terima kasih Jena Teke Abdul Kahir Ma Bata Wadu
kepada orang Wera atas jasa-jasanya menyelamatkan Jena Teke dalam
pengejaran Raja Salisi Rumata Ma Ntau Asi Peka. Kejadian tersebut dicatat
dalam BO, ringkasan transkripsi bebasnya sebagai berikut :
- dalam keadaan yang sangat darurat Yang dipertuan kita Jena Teke Ma Bata Wadu menghindarkan diri dari kejaran Bumi Luma RasanaE. Tujuhbelas hari lamanya diperjalanan ; sepuluh hari mengembara di hutan belantara tanpa bekal yang cukup, tujuh hari berkatung-katung dipulau Sangiang
- Rato Waro Bewi menghadang gerak maju lasykar Raja Salisi di doro Cumpu untuk memberi kesempatan kepada Yang Dipertuan kita sampai di Wera. Rato Waro Bewi gugur di situ.
- Di Wera Yang dipertuan kita dibantu sekelompok orang Wera (20 orang ) dibawah pimpinan seorang bernama La Buri. Mereka sepakat untuk menyediakan 9 buah perahu miliknya untuk menyebarangkan ke pulau Sangiang Sebelum berangkat Yang Dipertuan kita menyatakan untuk mengangkat mereka menjadi, "saudara" atas jasa-jasanya. Seusai menyampaikan pernyataan tersebut rombongan berangkat diseberangkan ke pulau Sangiang.
- Di pulau Sangian tidak ada persediaan makanan. Ompu Suka dan kawannya La Siri menyeberang kembali ke Wera dan kembali segera dengan membawa bahan-bahan makanan. Yang Dipertuan kita ber-titah . "`benar-benar engkau membantu dengan hati yang bening danjernih akan daku"
- Yang Dipertuan kita memerintahkan kepada La Buri bersama temannyaagar kembali saja ke Wera karena tugasnya selesai. Namun perintah itu ditampik seraya mengatakan: "kami tidak mau melepaskan diri dari naungan dan lingkungan Yang Dipertuan sampai kepada anak cucu*
- Pernyataan dalam butir 4 dan 6 menjadi janji antara kedua belah pihak. "'Dan barang siapa yag merubah dan melanggarnya akan mendapat kutukan Tuhan sampai kiamat".
- D i pulau Sangiang baru diketahui bahwa sondi (semacam pedang ) pusaka nenek moyang kelupaan di Wera dibawah sebatang pohon asam. Kepada La Sira dan La Mali ditugaskan untuk kembali mencari sondi dan berhasil ditemukan dan dibawa kembali ke pulau Sangiang serta diserahkan Kepada Yang Dipertuan kita. Pohon asam itu diberi nama Mangge Ruma
- Ditetapkanlah oleh Yang Dipertuan Kita bahwa orang Wera menjadi Dari Suba ( pasukan pengawal Sultan ) kecuali La Siri karena ia orang Sape.
- Tujuh hari lamanya Yang Dipertuan kita berada di pulau Sangiang "menanggung kesukaran yang amat sedih dan kesusahan yang amat pahit dan kelaparan yang tak tertahankan" demikian BO mencatat.
Yang dipertuan kita melanjutkan pelayaran ke Gowa bersama armada Gowa yang bergerak mundur Dari transkripsi di atas disimpulkan bahwa
- Karena ketulusan dan keberanian dalam bertindak pada saat yang amatgenting orang Wera diangkat statusnya sebagai anggota keluarga istana Kerajaan Bima
- Orang Wera adalah rakyat pertama yang sebenarnya yang menyatakan bernaung dan berlindung pada hawo ro ninu Sultan Abdul Kahir.
- Orang Wera rakyat terpercaya ditugaskan menjadi Dari Suba yaitu jabatan kelasykaran Kerajaan Bima sebagai pengawal sultan berserta keluarganya, menjadi lasykar Pengawal Kerajaan Bima
- Ketentuan itu mengikat kepada ke dua belah pihak dan barang siapa yang merubah atau melanggarnya akan mendapatkan kutukan Tuhan sampai hari kiamat.
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
