Awal masuk nya islam di Bima
Berbicara mengenai awal kedatangan Islam dan islamisasi di daerah Bima dan sekitarnya belum dapat ditentukan secara tepat. selain datanya yang kurang lengkap, penelitian kearah itu belum banyak dilakukan. Tetapi yang lebih penting dari itu ialah masih adanya kekaburan dasar konseptual yang dipergunakan para penulis (peneliti) antara masuknya Islam, berkembangnya Islam dan berdirinya suatu kerajaan Islam atau munculnya Islam sebagai
kekuatan politik. Konsep-konsep semacam itu semestinya dibedakan meskipun dalam banyak hat sulit ditarik batas yang tegas. Para ahli hampir sepakat bahwa masuknya Islam atau datangnya Islam di Indonesia berawal dari kontak antara penduduk setempat dengan orang-orang Islam melalui perdagangan, kemudian ada di antara mereka yang bermukim (sementara atau menetap) atau sudah ada penduduk setempat yang memeluk agama lalam meskipun jum lahnya kecil. Peristiwa ini biasanya dikaitkan dengan keberadaan bekasbekas Islam di suatu tempat antara lain nisan-nisan kubur. Berkembangnya Islam atau Islamisasi adalah penyebaran Islam di suatu tempat (wilayah) atau dari satu tempat ke tempat yang lain melalui da'wah baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terangterangan (terbuka) sehingga terbentuk masyarakat yang bercorak Islam. Keberadaannya biasanya dibangunnya masjid sebagai sarana untuk beribadah. Dalam kenyataannya antara masuk dan berkembangnya Islam seringkali sukar ditarik garis pemisah, sebab setelah agama Islam dianut oleh seseorang atau sekelonpok orang da'wah akan berlangsung meskipun secara sembunyi-sembunyi diantara sesama dan sahabat terdekat, di dalam satu keluarga seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW pada mulanya.
Disamping itu Islam mengajarkan bahwa setiap muslim berkewajiban menyampaikan sesuatu yang diketahuimya tentang agamanya Sehingga setiap muslim pada dasarnya adalah penda'wah walaupun hanya sedikit. ltulah sebabnya di dalam da'wah Islam tidak membedabedakan tugas antara pedagang, muballig dan penguasa. Berdirinya suatu kerajaan yang bercorak Islam biasanya didahului denganterbentuknya suatu masyarakat Islam yang kuat.
Di Indonesia keberadaan negara atau kerajaan yang bercorak Islam ini ditandai dengan masuk Islamnya seorang penguasa (raja, datu) dan kemudian diikuti dengan pemakaian nama atau gelar sultan atau yang senafas dengan itu, meskipun dalam kenyataannya tidak seluruhnya rakyatnya memeluk agama yang baru itu. Di atas telah dijelaskan bahwa berdasarkan data sejarah dan buktibukti arkeologi masa Hindu di daerah Bima dan sekitarnya diperkirakan berlangsung sejak abad ke- 7 atau 8 sampai dengan awal abad ke-17. Situasi itu kemudian berubah dengan datangnya agama Islam menurut Noorduyn dibawa oleh orang-orang Makassar. Sejak itu pula pengaruh politik dan budaya Gowa menjadi dominan sehingga masuk akal jika banyak informasi sejarah tentang Islam di pulau Sumbawa di temukan dalam catatan tertulis orang-orang Makassar.
Kapan dan bagaimana agama Islam datang di Bima dan dari mana asal kedatangannya belum dapat dipastikan. Kronik Bima atau yang lazim disebut Bo kerajaan Bima mencatat bahwa pada masa pemerintahan raja Bima yang ke-36, Sariese terjadilah kontak pertama ngan orang-orang Eropah (mungkin yang dimaksud adalah orang Portugis), sedangkan raja Bima yang ke-37, Sawo adalah raja yang terakhir yang belum memeluk agama Islam. Zollinger berpendapat yang kemudian dikutip oleh Braam Morris bahwa agama Islam pertama kali datang di Bima antara tahun 1450--1540; sultan Bima yang pertama adalah Abdul kahir dan agama yang baru itu dibawa oleh muballig-muballig dari Makasar. Helius Syamsuddin menghubungkan kedatangan agama Islam di Bima dan daerah sekitamya dengan masa kejayaan Malaka sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara antara tahun 1400 -151. la berasumsi bahwa setelah jatuhnya Malaka ketangan Portugis pada tahun 1511, saudagar-saudagar muslim yang juga bertindak sebagai muballig mencari daerah baru atau kembali ke Jawa atau Sumatera meneruskan kegiatannya. Di antara mereka itu ada yang singgah di Bima lalu menyebarkan agama Islam dalam perjalanannya dari Jawa ke Maluku atau sebaliknya.
Tome Pires melaporkah bahwa rute pelayaran perdagangan dari Malaka ke Maluku atau sebaliknya melewati Jawa dan Bima; di Bima para pedagang menjual barangbarang dagangan yang dibawa dan dibeli dari Jawa, kemudian membeli pakaian (kain kasar) dengan harga murah untuk dijual (ditukar) dengan rempah-rempah di Banda dan Maluku. Adanya rute pelayaran perdagangan dari Malaka ke Maluku yang melewati pantai utara pulau Jawa menyebabkan hubungan perdagangan antara Malaka dengan berapa kota di pantai utara Jawa terutarna Gresik terjalin dengan baik, karena menurut Mei link Roelofsz, Gresik adalah pelabuhan yang mengontrol import rempah. rempah dari Banda dan Maluku. 111 Setiap tahun tidak kurang 8 buah jung tiba di Maluku, sebagian di antaranya datang dari Malaka dan sebagian lagi dari Gresik. Oleh karena itu dalam aktivitas penyebaran Islam ke Maluku dan daerah-daerah yang disinggahi sepanjang rute perdagangan selain saudagar-saudagar muslim dari Malaka tentunya saudagar-saudagar muslim dari Jawa ikut berperan aktif. Menurut Pigeaud, 1 dalam kurun waktu abad ke15 sampai 17 di Jawa terdapat tiga pusat penyebaran Islam Jawa Barat pusatnya Cirebon dan Banten. Jawa Tengah pusatnya di Demak dan Jepara, sedangkan di Jawa Timur berpusat di Gresik dan Ampel ( Surabaya ). Dari Jawa Timur Islam disebarkan ke Maluku dan Nusa Tenggara, terutama ke pulau Lombok dan Sumbawa.Menurut tradisi setempat pada masa pemerintahan Marhum ( 1465--1485 ) di Ternate datang seorang dari Jawa yaitu Maulana Husain yang menunjukkan kemahirannya menulis huruf-huruf Arab yang ajaib dalam AIQur'an sehingga sangat menarik Marhum dan orang~orang Maluku. Kemudian ia diminta oleh mereka agar mengajarkan huruf-huruf yang indah itu tetapi sebaliknya Maulana Husain minta agar mereka juga mempelajari agama Islam. Sultan Zainal Abidin ( 1486--1500 ), raja Ternate yang pertama memeluk agama Islam dikatakan mendapatkan ajaran agama tersebut dari madrasah Giri (Gresik). Ketika berada di Jawa ia terkenal sebagai raja Bulawa ( raja cengkeh ) dan sekembalinya dari Jawa membawa mubalig bernama Tuhu-bahahul.
Dalam Babad Lombok disebutkan bahwa Islam dibawa ke Lombok oleh Sunan Prapen dan setelah berhasil mengislamkan pulau Lombok Sunan Prapen meneruskan perjalanannya ke timur untuk mengislamkan Sumbawa dan Bima. 341 Jika informasi dalam Babad Lombok itu dapat dibenarkan maka peristiwa itu seharusnya terjadi pada masa pemerintahan Sunan Dalem di Giri ( 1506--1546 ).
Berdasarkan pengamatannya terhadap sejumlah inskripsi pada makam-makam sultan Bima, Rouffaer berpendapat bahwa di Sima pengaruh Melayu dan Arab sangat kuat, karena inskripsi-inskripsi tersebut ditulis dengan huruf Arab dan bahasanya Melayu, bukan dengan huruf dan bahasa Sima atau Sugis.
Menurut Rouffaer, Islam di Sima dibawa atau datang dari Melayu, Aceh dan Cirebon . Pembawa-pembawa Islam terutama orang-orang Melayu datang di Bima pada masa pemerintahan raja Manuru Sarehi sekitar tahun 1605 .m Ditambahkan pula bahwa Kadhi Jalaludin, ulama yang pernah menjadi guru agama Islam sultan Bima I, Abdul Kahir yang dimakamkan di komplek makam Danatraha tidak lain adalah seorang Melayu. Dari penjelasan di atas dapat diambil simpulan bahwa dugaan Mataka atau Jawa sebagai tempat asal kedatangan Islam di Sima dan daerah sekitarnya pula tampaknya masuk akal. Asumsi ini dikaitkan dengan lokasi Sima pada rote lintas perdagangan antara Malaka dan Maluku dan kedudukan atau posisi Sima sebagai salah satu pusat perdagangan pada rote tersebut. Dalam aktivitas perdagangan saudagar-saudagar muslim baik dari Malaka,Sumatera maupun dari Jawa ikut ambil bagian dalam penyebaranIslam ditempat-tempat atau daerah yang disinggahi sepanjang rote pelayaran-perdagangan dari Malaka sampai ke Maluku. Di sebelah barat dan timur pelabuhan Sima terdapat pemukiman orang-orang Melayu yang oleh orang Sima disebut Kampung Melayusedangkan penghuninya dinamakan dau Melayu. Hingga sekarang kampung Melayu dikenal sebagai tempat (pusat) studi Islam di Sima terutama dalam mempelajari kitab Al Qur'an. Diduga orang-orang Melayu sejak beberapa abad yang silam telah mempunyai peran penting dalam penyiaran agama Islam di Sima ; orang-orang Melayu tidak hanya dikenal sebagai pedagang yang ulet, mereka juga dikenal sebagai perantara atau midde!man dalam penyebaran Islam dan mengantarkan budaya Melayu ke daerah Bima dan sekitarnya
Bahkan mereka dikenal sebagai perantara yang menjembatan kelompok-kelompok etnik di Sima dengan orang-orang Belanda. Bagi masyarakat Bima, orang-orang Melayu tidak sama dengan orangorang Sugis atau saudagar-saudagar dari Gowa, mereka dianggap sebagai guru sultan-sultan Bima, bahkan sebagai guru seluruh orang
Bima dalam agama Islam. Orang-orang Melayu dianggap amat berjasa dan menunjukkan dedikasi tinggi terhadap kerajaan Bima karena telahikut berjuang menumpas bajak laut sehingga banyak di antara mereka yang mati atau tenggelam di laut dalam. Oleh karena itu sultan dan rakyat Bima sangat menghormati orang Melayu dan menganggap mereka sebagai saudara. Sultan kemudian menghadiahkan sebidangtanah sebagai tempat mereka membangun perkampungan secara turun temurun dan sultan Bima telah berwasiat agar para penggantinya kelak tidak mengambil kembali tanah tersebut.
Terkecuali itu sebagai pedagang, orang-orang Melayu dibebaskan dari pajak, sultan memberikan hak istimewa kepada para penghulu dan imam orangorang Melayu untuk mengatur dan mengorganisir perkampungan mereka menurut hukum lslam. 191 Tambahan pula tidak diizinkan wanita Melayu menjadi pelayan di istana sultan. Dalam sumber lain disebutkan bahwa Islam dibawa ke Bima oleh Datuk Dibandang dan Datuk Ditiro. yang dalam kronik Gowa dan Tallo disebut sebagai pembawa agama Islam di kerajaan Goa dan Tallo. 4111 Diduga kedua mereka itu adalah orang Melayu yang datang dari Sumatera: Datuk Dibandang khususnya adalah seorang bangsawan Minangkabau dari Pagaruyung. 41 > Kedua muballig itu datang di Bima sebagai utusan sultan Gowa untuk menyebarkan Islam. Mereka kemudian menjadi guru agama Islam sultan Abdul Kahir, sultan Bima I. Pada tahun I 055 H ( 1645 M) kedua muballig itu dipanggil ke Makassar oleh sultan Goa dan tugas penyiaran agama islam selanjutnya diserahkan kepada anaknya, Encik Naradireja dan Encik Jayaindra.
Menurut Rouffaer, Datuk Dibandang (Dato ri Bandang) datang ke Sulawesi Selatan sekitar tahun 1600, kemudian mengislamkan raja Gowa dan Tallo pada tahun 1606, sedangkan Datuk Ditiro (Dato ri Tiro) diduga berasal dari Aceh dan keduanya datang di Bima melalui Sape (Labuan Sape) dan terus ke Sila untuk menyebarkan agama lslam. Ditambahkan pula bahwa kedua muballig ini tidak pemah menetap di Bima, melainkan di Sila dan dari sana kemudian dipanggil pulang kembali ke Makassar oleh sultan Gowa. Bilamana Datuk Dibandang dan Datuk Ditiro datang di Bima kronik Bima menyebut dua versi; versi pertama menyebut tahun I 018 Hijrah atau 1609 M dan versi kedua, tahun 1050 Hijrah atau 1640 M.
Berdasarkan kajiannya terhadap kronik-kronik Gowa, Noorduyn berpendapat bahwa Islam dibawa ke Bima dan daerah sekitamyadengan kekuatan senjata oleh orang-orang Makasar, tidak lama setelah Gowa menjadi muslim dan berhasil mengislamkan sebagian terbesar daerah Sulawesi Selatan antara tahun 1605--1611 .Pendapat Noorduyn mendapat dukungan dari sumber-sumber lokal yaitu catatan harian kerajaan Bima. Dalam kronik Gowa disebutkan bahwa Bima. Dompo dan Sumbawa ditaklukkan oleh Karaeng Matoaya, raja Tallo yang juga perdana menteri kerajaan Gowa. Dalam kronik itu disebutkan juga bahwa Gowa empat kali mengirim ekspedisi militernya ke Bima, dua kali ke Sumbawa dan masing-masing satu kali ke Dompu, Kengkelu (Tambora) dan Papeka. 451 Ekspedisi pertama dikirim pada tahun 1618, kedua tahun 1619 dan keriga pada tahun 1626 setelah Karaeng Matoaya dan raj a Gowa berhasil menaklukkan Buton. Ekspedisi yang keempat dikirim pada tahun 1632 karena pada tanggal 13 Nopember 1632 di Bima terjadi pemberontakan dan pada tanggal 25 Nopember 1632 Karaeng Buraqnc: dikirirn ke Bima untuk menumpas pemberontakan tersebut. Meskipun peristiwa tidak dicatat dalam buku harian kerajaan Bima, namun mendapat dukungan dari sumber-sumber VOC. Dalam sumber-sumber voe disebutkan bahwa sebuah kapal Belanda (VOe) berlayar dari Batavia dan tiba di Bima pada tanggal 24 Januari 1633 untuk membeli beras dan komoditi lainnya. Kapal ini kembali pada tanggal 23 Mei 1633 dengan misi yang kurang berhasil karena di Bima ditemukan padi, rumah dan desadesa terbakar; seluruh negeri diporakporandakan oleh pasukan
Makassar yang terdiri dari 400 kapal dan beribu-ribu orang yang dikirim oleh raja Makassar untuk menempatkan kembali adik iparnya sebagai raja Bima karena telah dipaksa turun tahta oleh para pemberontak dan melarikan diri ke sebuah pulau dekat Gunung Api (pulau Sangeang).
Menurut ehambert Loir, peristiwa tersebut tidak lain adalah perang suksesi di kerajaan Bima. Speelman, gubernur voe di Makassar memaparkan aspek lain dari peristiwa tersebut, dan menekankan bahwa sebenarnya anti Makassarlah sebagai penyebab pemberontakan itu. Banyak orang Bima yang tidak setuju dengan raja atau sultan yang sedang memerintah setelah bersekutu (kawin) dengan wanita Makassar. Mereka melarikan diri dan berlindung di kerajaan Dompu kemudian mengangkat senjata dibantu oleh orang-orang Bima dalam pembuangan.
Speelman melaporkan bahwa per1st1wa itu terjadi sekitar 35 tahun yang lalu (sekitar tahun 1634) sehingga menurut Noorduyn harus dihubungkan dengan peristiwa yang sama seperti yang disebutkan dalam kronik Gowa. 481 Berdasarkan informasi Speelman itu Noorduyn berpendapat bahwa peperangan yang terjadi antara tahun 1632--1633 di Bima bukan perang suksesi seperti yang di duga ehambert Loirt melainkan suatu pemberontakan yang bertujuan untuk menentang dan menggulingkan kekuasaan sultan Bima yang pro Makassar. Ia menambahkan bahwa sultan Bima yang dimaksud dalam sumber VOe itu tidak lain adalah Abdul Kahir yang dalam kronik Gowa disebutkan telah kawin dengan anak perempuan raja Gowa. 4q 1 Dalam waktu yang sama ada dua orang pendeta Jesuit, Manuel
Azevedo dan Manuel Ferreire berada di Makassar kemudian datang ke Bima yang secara khusus melaporkan bagaimana agama Islam datang ke daerah itu. Mereka datang ke Makassar dari Melaka pada tanggal 4 Januari 1617, namun setelah melihat tidak ada prospek untuk menyebarkan agamanya di Makassar, mereka akhimya memutuskan untuk pergi ke Bima meneruskan misinya. Kedua Pendeta itu datang pada bulan Maret 1618 dan setibanya di Bima mereka menjumpai dua orang utusan dari Jawa (Gairi atau Giri) dan seorang lagi dari Makassar sedang menghadap raja Bima. Mereka meminta kepada raja agar memeluk agama Islam dan menuruti kehendak mereka sebab jika ditolak akan diperangi. Dengan demikian pada waktu kedua pendeta Jesuit itu tiba di Bima raja Bima belum memeluk agama Islam, sedangkan ketiga utusan yang dijumpainya itu tidak lain adalah utusan yang meminta raja Bima untuk memeluk Islam secara suka rela, yang sekaligus menginformasikan kemungkinan dilaksanakan tindakan militer. Tampaknya upaya diplomatik seperti yang dilaporkan oleh Ferreire tidak berhasil, terbukti kemudian Makassar mengirim ekspedisi militernya, karena mungkin raja Bima menolak memeluk agama Islam.
Berkenaan dengan adanya berbagai laporan mengenai islamisasi di Bima baik dari orang-orang Portugis, sumber-sumber voe maupun kronik-kronik Gowa, Noorduyn kemudian sampai pada satu simpulan bahwa Islamisasi di Bima dan sekitarnya berlangsung . sebelum pengiriman ekspedisi Makasar yang ke IV, yakni antara tahun 1626--1632/33, meskipun sudah dimulai sejak tahun 1618.
Abad ke XVII merupakan momentum penting dalam perkembangan sejarah Bima. Pada masa itu terjadi peristiwa yang cukup dramatis mempengaruhi seluruh sendi kehidupan kenegaraan, politik, budaya dan agama di kerajaan Bima. Inilah masa transisi yang luar biasa dan membawa berbagai dampak yang berurujung lahirnya kesultanan Bima. Berawal dari ambisi dari Salisi bergelar Mantau Asi Peka yang ingin merebut tahta kerajaan dari pewaris yang sah. Berbagai intrik politik dijalankan dengan melakukan serangkaian pembunuhan terhadap Raja dan Putera Mahkota.
Pembunuhan politik itu dilakukan terhadap keturunan Raja Mantau Asi Sawo yaitu Sarise, Sangaji Samara dan putera mahkota yang dibakar hidup-hidup di padang rumput Wera atau yang dikenal dalam sejarah Bima dengan Ruma Ma Mbora Di Mpori Wera. Peristiwa itu direkam dalam Kitab BO sebagai sumber sejarah Bima sebagai berikut:
“ Setelah itu berawal mulanya, maka berkatalah orang dalam negeri itu mau mengangkat tuan kita Ma Mbora Di Mpori Wera. Maka didengar oleh tuan kita Mantau Asi Peka, maka disuruhnya Bumi Luma Rasanae untuk membuat perburuan di Mpori Wera itu. Setelah datang di Mopri Wera, maka disruhunya sekalian orang banyak membakar rumput itu, maka hilanglah Tuan kita (Jena Teke) ketika itu.” (Ibid, tahun 1070 H.)
Sasaran selanjutnya dari aksi pembunuhan poltik Salisi adalah Putera Mahkota La Ka’i yang baru berusia 9 tahun. Mendengar bocoran informasi itu, Panglima Perang Kerajaan Bima yang setia kepada keturunan Mantau Asi Sawo yang bernama Rato Waro Bewi beserta beberapa pejabat kerjaan terpaksa mengamankan La Ka’i dan dibawa ke Desa Teke. Di tempat pengasingan inilah La Ka’i terus dibina dan dilatih fisiknya terutama dalam kaitannya dengan taktik perang. Berawal dari sinilah, maka setiap putera mahkota kerajaan Bima dijuluki dengan Jena Teke. Hingga beberapa tahun lamanya, La Ka’i bersama sepupunya putera Mahkota Kerajaan Dompu yang bernama Manuru Bata dibina di desa Teke ini. Sebuah desa yang terletak di timur kecamatan Palibelo sekarang.
Salisi semakin berang, dia mencoba untuk terus menangkap La Ka’i dengan meminta bantuan kepada Belanda. Perjanjian lisan antara Salisi dengan Belanda terjadi di Ncake (Sekarang Cenggu Bima) pada tahun 1605. Perwakilan Belanda yang hadir di Cenggu saat itu bernama Stephen Van Hagen. Karena Teke dalam incaran Salisi, Rato Waro Bewi membawa La Ka’i ke puncak Gunung Kalodu tepatnya di dusun Kamina desa Kalodu sekarang. Kalodu terletak di sebelah tenggara Bima merupakan puncak gunung tertinggi di Bima. Sejak saat itu Kalodu menjadi pusat persembunyian dan basis perjuangan La Ka’i yang mulai beranjak remaja untuk merebut kembali tahta kerajaan.
Pada tahun 1621 M, Jena Teke La Ka’i bersama pengikut berangkat ke Sape untuk menemui para mubalig dari Sulawesi Selatan yang datang untuk menyiarkan agama Islam serta ingin menyampaikan pesan Raja Gowa dan Tallo kepada Raja dan keluarga Istana Bima. Maka pada tanggal 15 Rabi’ul Awal 1030 H ( 7 Februari 1621 ) Jena Teke La Ka’i bersama pengikutnya memeluk agama Islam dengan mengucapkan Dua Kalimat Syahadat di hadapan para gurunya. Sejak itu nama La Ka’I diganti dengan Abdul Kahir. Bumi Jara Mbojo bernama Awaluddin, La Mbilla bernama Jalaluddin, Manuru Bata Putera Raja Dompu Ma Wa’a Tonggo Dese bernama Sirajuddin.
Sejak saat itu Abdul Kahir memerintahkan seluruh pejabat kerajaan dan seluruh rakyat Bima untuk memeluk Islam yang diawali dengan sumpah di atas sebuah batu yang berlokasi di Parapi (Bendungan Parapi Sape ). Sumpah itu juga dikenal dengan Sumpah “ Darah Daging “ karena mereka mengiris jari masing-masing kemudian darahnya diminum secara bersama-sama sebagai wujud kesetiaan terhadap Islam.
Beberapa bulan setelah memeluk agama Islam, Jena Teke Abdul Kahir bersama pengikut didampingi oleh beberapa orang gurunya dari Sulawesi Selatan kembali menuju Dusun Kalodu. Setelah berada di Kalodu mereka mendirikan sebuah Masjid, selain sebagai tempat ibadah juga menjadi pusat kegiatan dakwah. Mulai saat itu Dusun Kalodu menjadi pusat penyiaran Islam, selain Kampo Sigi (Kampung Sigi ) di sekitar Desa NaE kecamatan Sape.
Dari puncak Kalodu, Islam semakin bersinar terang menyelimuti kegelapan Bumi Bima. Seluruh rakyat menyambut gembira instruksi Putera Mahkota Abdul Kahir untuk memeluk Islam. Salisi semakin berang. Dengan bantuan Belanda ia terus mengejar dan menyerang Pasukan Abdul Kahir. Proses pengejaran itu mulai dari Kalodu, Sape hingga mencapai puncaknya di Wera. Di sinilah terjadi pertempuran habis-habisan hingga menewaskan Panglima Perang Rato Waro Bewi di Doro Cumpu desa Bala kecamatan Wera. Berkat kerja sama dan kelihaian orang-orang Wera, Abdul Kahir dan teman seperjuangannya dapat diselamatkan ke Pulau Sangiang yang selanjutnya dijemput perahu-perahu dari Makassar.
Di Makassar, Empat serangkai Abdul Kahir, Sirajuddin, Awaluddin dan Jalaluddin dibina dan dilatih taktik perang. Di tanah ini pula mereka memperdalam ajaran Islam. Hingga setelah segala persiapan dimatangkan, Sultan Alauddin Makassar mengirim ekspedisi penyerangan terhadap Salisi. Dalam sejarah Bima tercatat dua kali ekspedisi ini dikirim untuk menaklukkan Salisi namun gagal. Pasukan Makassar banyak yang tewas dalam dua ekspedisi ini. Untuk ketiga kalinya pada tahun 1640 M, ekspedisi baru berhasil. Pada tanggal 5 Juli 1640 M Putera Mahkota Abdul Kahir berhasil memasuki Istana Bima dan dinobatkan menjadi Sultan Bima pertama yang diberi gelar Ruma ta Ma Bata Wadu (Taunku Yang bersumpah Di Atas Batu). Sedangkan Sirajuddin terus mengejar Salisi hingga ke Dompu. Sirajuddin selanjutnya mendirikan Kesultanan Dompu. Jalaluddin kemudian diangkat menjadi Perdana Menteri (Ruma Bicara) pertama dan diberi gelar Manuru Suntu, dimakamkan di kampung Suntu (Halaman SDN 3 Bima sekarang).
Tanggal 5 Juli 1640 M menjadi saksi sejarah berdirinya sebuah kesultanan di Nusantara Timur dan Terus berkiprah dalam percaturan sejarah Nusantara selama 322 tahun. Untuk itulah pada setiap tanggal 5 Juli diperingati sebagai hari Jadi Bima. Seperti telah menjadi takdir sejarah pula, bahwa kesultanan Bima diawali oleh pemimpinnya yang bernama Abdul Kahir I dan berakhir pula dengan Abdul Kahir II (Putera Kahir). Dua tokoh sejarah itu kini tidur dengan tenang untuk selama-lamanya di atas bukit Dana Taraha Kota Bima. (Sumber : Kitab BO ; Peranan Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara, M. Hilir Ismail ; Novel Sejarah Kembalinya Sang Putera Mahkota, Alan Malingi )
Sultan Abdul Kahir memerintah sejak tahun 1630--1640, sedangkan menurut Braam Morris sejak tahun 1640 tanpa menyebutkan tahun berakhirnya. Abdul Kahir (Abdul Kahar) dikenal sebagai peletak dasar agama Islam dan menjadikan kerajaan Bima sebagai kerajaan yang bercorak Islam. Di dalam sejarah Daerah Bima maupun dalam lontara Gowa dikenal dan sering disejajarkan dengan Sultan Alaudin dan Sultan Malikul Said dari kerajaan Gowa dan Tallo, baik dalam penyebaran Islam maupun dalam perebutan pengaruh dengan Belanda yang ingin menguasai perdagangan di Indonesia bagian timur pada waktu itu. Setelah wafat digantikan oleh anaknya yang kemudian bergelar Sultan Abdul Khair Sirajudin, yang memerintah 1640--1682.
Menurut catatan Bo kerajaan Bima ketika istri Sultan Abdul Kahir, Rumata Ma Bata Wadu melahirkan putranya yang pertama ia mendatangi Bicara/Bumi Renda La Mbila Manuru Suatu untuk meminta nama bagi putranya itu. Oleh Rumata Manuru Suatu anak yang baru dilahirkan itu diberi nama La Mbila dan setelah menjadi sultan, La Mbila mendapat tambahan nama Abdul Khair Sirajudin sehingga nama lengkapnya adalah La Mbila Abdul Khair Sirajudin. Di dalam lontara Gowa sultan ini dikenal dengan sebutan Sultan I Ambela Abdul Khair Sirajudin. Ketika La Mbila menanjak dewasa, ayahnya sultan Abdul Kahir meninggal dunia sehingga terpaksa memangku jabatan sultan dalam usia yang masih muda. Dalam Lontara Gowa dikatakan bahwa ia kawin di Makasar pada tahun 1646 dengan putri raja Gowa, Sultan Malikul Said bernama Karaeng Bonto Jene, setelah beberapa tahun menjadi sultan. Dari perkawinan itu lahir sultan Nurudin ( sultan Bima Ill ) pada tahun 1651 dan tiga anak wanita lainnya. Selama pemerintahan Sultan Abdul Khair Sirajudin
tercatat beberapa peristiwa penting di kerajaan Bima antara lain :
- 1. Penyesuaian hukum adat dengan hukum Islam sehingga pemerintahan kerajaan benar-benar berjalan sebagaimana lazimnya kerajaan Islam;
- Penyesuaian bentuk Majelis Kerajaan dengan memasukkan unsur unsur agama Islam; kalau sebelumnya Majelis Kerajaan terdiri dari Majelis Sara dan Majelis Hadat, maka setelah penyesuaian terdiri dari Unsur Sara, Unsur Sara Tua dan Unsur Hukum;
- Memperluas penyiaran agama Islam dengan mewajibkan pelaksanaan Syariat Islam dan memberikan kedudukan yang tinggi bagi para muballig, oleh karena itu dalam kronik Bima , Sultan Abdul Khair Sirajudin disebut Palita Agama (lampu agama)
- Memerintahkan penyempurnaan Kitab Catatan Kerajaan dengan membuat ( menulis ) Bo, yang ditulis diatas kertas dengan huruf Arab dan berbahasa Melay
- Menetapkan hari-hari besar kerajaan yang diperingati setiap tahunnya .
Oleh Majelis Kerajaan hari-hari besar disebut Rawi Sara Ma Tofu Kali Sa Mbaa, yakni :
- Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul awal yang sengaja dirayakan atau diperingati 2 hari kemudian ( tanggal 15 Rabiul Awal) karena disatukan dengan peringatan kemenangan Islam di kerajaan Bima dan dinyatakan secara resmi sebagai kerajaan Islam pada tanggal 15 Rabiul Awai tahun I 030 Hijrah. Upacara ini lebih dikenal dengan nama Upacara Sirih-puan atau Ua-pua. 56 1
- Hari Raya ldul Fitri
- Hari Raya ldul Adha.
Sebagai sekutu kerajaan Gowa, Sultan Abdul Khair Sirajudin selalu bahu membahu dengan iparnya I Mallombasi Daeng Mattawang alias Sultan Hasanuddin dari Gowa menentang Belanda. Pada tahun 1666 Sultan Gowa Hasanuddin menyerang Buton karena memberikan bantuan dan perlindungan kepada Arung Palaka yang memihak Belanda Sultan Gowa mengirirn pasukan/armada yang terdiri dari 20 kapal dipimpin oleh Karaeng Bontomarannu bersama-sama dengan Datu Luwu bernama Setiaraja Sultan Alimuddin dan Sultan Bima.
Pada tanggal 1 Januari 1667 Speelman mengirim pasukan/armadanya untuk membantu Buton sehingga terjadilah pertempuran sengit dengan kekalahan dipihak pasukan Gowa. Karaeng Bontomarannu bersamasama dengan Datu Luwu dan Sultan Bima menemui Speelman untuk mengadakan perundingan yang berakhir dengan penyerahan pada tanggal 4 Januari 1667.
Dalam penyerangan Belanda terhadap benteng Somba Opu dan Panakukang, Sultan Abdul Khair Sirajuddin sempat bertempur bersama-sama dengan laskar Gowa mempertahankan : benteng tersebut. Bo kerajaan Bima menyatakan bahwa jatuhnya benteng Panakukang terjadi Pada tahun 1070 Hijrah, sedangkan sejarah Gowa mencatat tanggal 12 Juni 1660. Jatuhnya benteng Panakukang ini mengakibatkan lahirnya perjanjian 19 Agustus 1660 dan perjanjian 21 Desember 1660 yang ditandatangani oleh pihak Belanda dan Gowa.
Dalam perjanjian tersebut antara lain dicantumkan syarat-syarat untuk memisahkan persekutuan Gowa dengan Bima. Meskipun perjanjian itu telah ditandatangi, Gowa dan Bima tetap bersekutu. Hal itu bukan saja karena Sultan Hasanuddin dan Sultan Abdul Khair Sirajudin mempunyai prinsip yang sama tapi persekutuan itu dipererat dengan ikatan kekeluargaan melalui perkawinan. Noorduyn beranggapan bahwa perkawinan yang terjadi antara sultan-sultan Bima dengan putri sultan atau bangsawan Gowa adalah perkawinan politik karena melalui perkawinan itu Bima dimasukkan dalam dinasti Gowa dan mengikat Bima menjadi bagian dari kerajaan Gowa.
Sultan Abdul Khair memerintah daerah yang cukap luas seperti Floresbarat (Manggarai) dan pulau-pulau kecil di antara Flores dan Sumbawa . Karena wilayah ini amat strategis bagi pelayaran perdagangan maka dalam perjanjian Bongaya yang ditandatangi pada hari Jum'at tanggal 18 November 1667, tiga pasalnya di antaranya menyangkut kerajaan Bima, sultan Bima dan bangsawan-bangsawan Bima. Walaupun perjanjian itu telah terpaksa ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin dan raja-raja lainnya, Karaeng Bontomarannu, sultan Bima, Raja Talia Sultan Harun Al Rasyid dan Karaeng Lengkoso tetap belum mau menandatanganinya. Namun atas desakan Speelman, raja Tallo dam Karaeng Lengkese terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 31 Maret 1668, sedangkan kerajaan
Bima baru menyerah kepada Belanda pada tanggal 8 Desember 1669 dengan ditandatanganinya suatu perjanjian di Jakarta oleh Jeneli Monta-Abdul Wahid dan Jeneli Parado-La lbu, atas nama sultan Bima. Meskipun secara resmi kerajaan Bima dinyatakan telah menyerah namun praktek pemerintahan kerajaan sepenuhnya berjalan menurut kebijaksanaan Sultan Abdul Khair. Kekuasaan Belanda hanya terlibat dalam perdagangan yang dikendalikan oleh seorang Kuasa Usaha yang dikenal sebagai Khojah Ibrahim.
Sultan Abdul Khair wafat pada tanggal 17 Rajab 1693, bertepatan dengan 22 Juli 1682 dan dimakamkan di Komplek Makam Tolo Bali. Setelah wafatnya, beliau bergelar Rumata Mantau Uma Jati yang berarti raja yang memiliki rumah jati . dia kemudian digantikan oleh Sultan Nurudin Abubakar Ali Syah sehagai sultan yang ketiga. memerintah dari 1682--1687.
Cacatan Lontara dan Bn kerajaan Bima menyatakan bahwa Sultan Nurudin adalah anak sulung Sultan Abdul Khair dengan Karaeng Bonto Jene yang dilahirkan pada 13 Dasember 1651 dan wafat pada 23 Juli 1687. Sebagai putra mahkota ia mendapat nama Mapparabung Daeng-Mattallik Karaeng-Panaragang, ia sendiri kawin dengan putri bangsawan Gowa bernarna Daeng Tarnernang.
Menurut surnber VOC sebelurn rnenjadi sultan, beliau pernah tinggal di Jawa, bahkan pada tahun 16 76 ikut bergabung dengan pasukan Makassar di bawah Karaeng Galesong rnernbantu Trunojoyo melawan Susuhunan Matararn dan VOC. Sejak bulan Januari 1680 sarnpai -Maret 1681 dia tinggal di Cirebon dan pada 9 Maret 1682 berangkat dari Batavia kernbali ke Bima disertai 230 pengikutnya.
Peristiwa-peristiwa penting yang perlu dicatat selama pernerintahan Sultan Nurudin adalah pengirirnan pejabat-pejabat kerajaan Sima ke daerah Manggarai yang bertindak sebagai Na'ib sultan di wilayah itu yang sekaligus berkewajiban menyiarkan Islam . Jabatan-jabatan keagamanan kerajaan Bima mulai disempurnakan yakni dengan diadakannya jabatan Qadhi, Lebe, Khatib dan lain sebagainya, bahkan di istana sultan diangkat petugas dibidang keagamaan yang berkedudukan sebagai mufti istana. Pada masa Pemerintahan Sultan Nurudin berdatangan para muballig dari Surnatera, Banten, Sulawesi, bahkan dari Malaka dan tanah Arab, sebagian di antaranya perlakuan sebagai pajabat kerajaan.
Sebagai contoh adalah seorang Arab dari Banten, Syeh Umar Al Bantami yang menjadi Mufti di istana kerajaan, bahkan dialah yang diberi tugas mendidik putera-putera sultan. Sultan Nurudin wafat pada tahun 1687 dan dimakamkan di Komplek Makam Tolo Bali berdampingan dengan makam ayahandanya. Setelah wafatnya beliau diberi sebutan ( gelar) Rumata Ma Waa Paju; diberikannya narna tersebut karena beliaulah yang menetapkan agar para pejabat kerajaan mernakai payung kebesaran terutama pada upacara-upacara adat kerajaan. Sultan Nurudin kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang kemudian bergelar Sultan Jamaludin Ali Syah yang memerintah sejak tahun 1687--1692, sebagai sultan yang keempat.
Sultan Jamaludin kawin dengan Fatima Karaeng Tanata, putri bangsawan Gowa. Karaeng Besei pada tahun 1688. Dari perkawinannya ini lahir 4 orang anak laki-laki dan salah seorang di antaranya kelak menggantikannya sebagai sultan Bima yang kelima dengan gelar Sultan Hasanuddin Muhammad Syah. Sejak kecil Sultan Jamaluddin mendapat didikan Syeh Umar Al Bantami, dari padanya ia mendapat cerita tentang kepahlawanan raja-raja Banten, Malaka dan kepahlawanan Islam. eerita-cerita itu dapat berkesan dihatinya dan ketika menjadi sultan cerita dan ajaran Syeh Umar Al Bantami · itu mempengaruhi sikapnya terhadap Belanda, sehingga kurang mendapat simpati pemerintah VOC. Ketika terjadi pembunuhan permaisuri sultan Dompu ( bibi Sultan Jamaludin ) secara kebetulan Sultan Jamaludin tengah berkunjung kepada bibinya . Kesempatan itu kemudian dipergunakan oleh Belanda ( voe ) untuk menyingkirkannya. Atas pengaduan sultan Dompu, gubernur voe di Makassar kemudian memanggil Sultan Jamaludin ke Makassar lalu ditahan. Dari Makasar dibawa ke Batavia dan ditahan disana sampai wafatnya pada tanggal 6 Juli 1696 dan dimakamkan di Tanjung Periok.
Pada tahun 1701 voe membangun benteng dan loji di Bima ke mudian menempatkan petugas-petugasnya bcrgelar Koopman dan Onderkuopman. Dari petugas-petugas voe itulah kemudian diketahui bahwa Sultan Jamaludin telah wafat. Tiga tahun kemudian, tulang belulang Sultan Jamaludin dipindahkan ke bima dan dimakamkan di Komplek Makam Tola Bali berdampingan dengan makam bekas gurunya Syeh Umar Al Bantami yang telah mendahuluinya.
Bima Dalam Jaringan Pelayaran Perdagangan Nusantara
Telah dijelaskan bahwa di pulau Sangeang ( Bima ) pernah ditemukan nekara perunggu yang menurut para ahli tergolong yang paling bagus yang pernah ditemukan di Indonesia. Apakah nekara perunggu itu merupakan produksi lokal atau barang impor belum diketahui secara pasti meskipun tehnik penuangan bendabenda perunggu seringkali dihubungkan dengan kebudayaan Dongson di Hindia Belakang. Berdasarkan telaah paleograti atas prasasti Jawa Kuna yang dipahat pada batu karang di situs Watu Pahat ( Sima ) diduga pengaruh Hindu ( agama Hindu dan Budha ) telah berkembang di Bima dan daerah sekitarnya pada abad ke-8 atau 9 Masehi. Sedangkan bukti-bukti arkeologi yang ditemukan di daerah pedalaman memberikan indikasi berkembangnya agama Hindu aliran Syaiwa yang kemungkinan besar dibawa dari Jawa.Berdasarkan sumber Cina dan sejum lah karya sastra berbahasa Jawa Ku no dapat diambil simpulan bahwa keberadaan budaya Hindu di pulau Sumbawa ( termasuk Bima ) dibawa melalui penaklukkan dan dominasi politik kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa secara silih berganti.
Meskipun demikian tidak tertutup kemungkinan bahwa budaya tersebut masuk ke pulau Sumbawa melalui kontak dagang atau dibawa oleh para Brahmana yang sengaja datang ke daerah ini untuk menyebarkan agama Hindu. 59> Jika demikian halnya maka nama-nama tempat di pulau Sumbawa seperti Taliwang, Seran, Hutan Kadali, Dompo, Bhima, Sape dari Sanghyang Api mungkin telah dikenal oleh orang-orang Jawa melalui kontak dagang sebelum pulau Sumbawa ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit. Dalam Kidung Ronggolawe disebutkan bahwa kuda yang baik dapat diperoleh dari Kore di Bima. F.H. van Naerssen berpendapat bahwa kuda Sumbawa diimpor oleh orang-orang Jawa dan adanya ternak kuda di Bima telah dikenal sejak awal berdirinya kerajaan Majapahit karena hubungan lalulintas (pelayaran) dengan pulau Jawa. Berbicara mengenai posisi Bima dalam jaringan pelayaran serta keterlibatannya dalam aktivitas perdagangan erat kaitannya dengan pembicaraan mengenai posisi serta kedududukan wilayah Nusa Tenggara dalam lintas pelayaran-perdagangan nusantara dimana pulau Sumbawa ( termasuk Bima ) di dalamnya. Kawasan Nusa Tenggara, mulai dari pulau Bali diujung barat sampai pulau Timor diujung timur terbentang pada jalur pelayaran-perdagangan nusantara yang diperkirakan sudah digunakan sejak abad ke-14. Dalam catatan perjalanan jarak jauh, Shun Feng Hsiang Sung atau angin baik pembimbing pelayaran. yang dihimpun sekitar tahun 1430 disebutkan 27 jalur pelayaran yang dilaukan oleh orang-orang Cina pada waktu itu. 6 » Kapal-kapal Cina yang berlayar ke kepulauan Nusantara melalui dua jalur, yaitu jalur barat dan jalur timur. Selain itu masih ada lagi limajalur pelayaran keberbagai tempat atau daerah di dalam wilayah Indonesia antara lain dari Krueng Aceh ke Banten yang terbagi dalam tiga etape, yaitu dari Aceh ke Barus: dari Barus ke Pariaman. kemudian dari Pariaman ke Banten.'·:i Dari Banten ada lagi dua jalur yang menuju ke Banjarmasin dan Timor.''
Jalur pelayaran
ini melewati atau singgah di Kalapa ( Chiao-lu-pa ). Tanjung lndramayu ( Chiao-ch'ing wan ), Cirebon ( Che-Ii-wen ). Gunung Muria ( Pa-na ta-sahan ). Dari Gunung Muria jalur yang menuju ke Banjarmasin membelok ke utara melewati Pulau Karimunjawa ( Chi-Ii-wen ) dan terus ke Sampit, sedangkan jalur yang ke Timor pelayaran dilanjutkan ke timur menuju Gunung Genuk (Hu-chiao shan), Tanjung Awarawar (Shung-yin hsu) sampai ke ujung barat Pulau Madura ( Wu-liu-na shan ).
Dari sini membelok ke selatan menyebrangi Selat Madura menuju Jaratan dan Gresik, lalu ke arah timur sampai ke ujung timur Pulau Madura, kemudian membelok lagi ke selatan menyebrangi Selat Madura untuk kedua kalinya ke arah Panarukan ( Pen-tzu-nu-kan ) di pantai utara Jawa Timur Dari Panarukan pelayaran diteruskan ke Bali (Ma-Ii ta-shan) Lombok (Lang-mu shan) dan Sumbawa ( San-pa ta-shan).
Dari sini pelayaran dilanjutkan ke Pulau Sangeang ( Huo Shan ) dan melalui Selat Sangeang ( antara Pulau Sangeang dan Tanjung Naru ) memasuki Se!at Sape lalu membelok ke selatan menuju Pulau Sumba (Hsunpa ta-shan) dan akhirnya sampai di Kupang ( Chu-pang ) dan Timor (Ch'ih-wen ). Kapal-kapal Cina yang menuju ke pantai utara Timor berlayar melewati Tanjung Salamu kemudian memasuki pelabuhan Kupang, sedangkan kapal-kapal yang menuju ke pantai selatan berlayar melalui selat Roti dan terus ke Timur menyusuri pantai selatan pulau Timor. selain jalur Banten Timor, sumber yang sama juga menyebutkan jalur pelayaran dari Patani ke Timor. 64> Dari Patani kapal-kapal Cina berlayar menyusuri pantai timur Semenanjung Malaya sampai pulau Tioman ( Ti-pan ). Dari sini terus ke selatan menuju Pulau Badas ( Ch'ihsu), Karimata ( Chi-ning ma-ta ), pulau Karimunjawa sampai ke Gunung Muria (dekat Jepara) pelayaran dilanjutkan ke pulau Timor melalui atau singgah di beberapa tempat seperti yang disebutkan dalam jalur Banten-Timor.
Jalur-jalur pelayaran orang-orang cina ke Timor seperti yang digambarkan oleh sumber Cina bukannya tanpa alasan mengingat pulau Timor dan Sumba memiliki produk andalan yang tidak dapat diperoleh ditempat lain, yakni ka yu cendana. Mcnurut MeilinkRoelufsz, mungkin sckali tujuan orang-orang Cina ke Timor adalah untuk mencari kayu cendana, mcreka tidak pcrnah datang kc Maluku dan itulah scbabnya pulau rempah-rcmpah hanya disebutkan secara sporadis dalam sumber-sumber Cina Rute pelayaran-perdagangan yang menyusuri pantai utara Pulau Jawa dan Nusa Tenggara tetap dilanjutkan ( digunakan) sampai abad ke-16 atau 17, bahkan sampai abad ke-18 seperti yang tersurat dalam sumber-sumber VOC. Dengan demikian rute ini kemudian tidak hanya digunakan (dilalui) oleh orang-orang Cina, tapi juga oleh orang-orang Portugis, Belanda dan pedagang-pedagang dari Malaka untuk mencari rempah-rempah di kepulauan Maluku. Orang-orang Portugis datang di kepulauan Nusantara sekitar abad kc-16 dan dalam pelayarannya ke Maluku mereka singgah di beberapa pulau di kawasan Nusa Tenggara seperti Flores, Solor, Timor dan Sumba untuk mencari kayu cendana.
Ketika orang-orang Belanda datang di Indonesia · untuk pertama kalinya pada tahun 1595. mcrcka bcrlabuh di Teluk Banten dan sebelum pulang ke negerinya mcneruskan pelayarannya sampai di Bali melalui rute pantai utara pulau Jawa. Ketika Malaka muncul sebagai imperium di Selat Malaka saudagar-saudagardari Asia Barat dan India tidak lagi berlayar langsung ke Maluku melainkan hanya sampai di Malaka.
Pelayaran ke Maluku dilakukan oleh pedagang-pedagang dari Malaka dengan menyusuri pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa dan Nusa Te1:ggara. Menurut MeilinkRoelofsz, aktivitas perdagangan Malaka ini menyebabkan Islam tersebar luas dan dalam hubungan ini pula perdagangan tampaknya
menjadi faktor penting dalam Jslamisasi di seluruh Nusantara. 08 > Setelah Malaka jatuh ketangan Portugis pada tahun 1511, rute dan jalur pelayaran-perdagangan ini tetap dipertahankan, meskipun
ada pendapat bahwa pedagang-pedagang muslim yang tidak suka kepada Portugis mengalihkan tujuannya ke Aceh yang pada waktu itu telah berkembang menjadi imperium dan pusat penyebaran Islam. Bahkan pedagang-pedagang muslim yang tadinya bermukim di
Malaka terpaksa hengkang dari sana mencari tempat baru untuk bermukim dan melakukan aktivitas perdagangan. Se lain itu ada juga asumsi yang mengkaitkan berpindahnya sebagian kapal-kapal asing membuang sauh dari Malaka ke Aceh disebabkan Portugis menarik pajak pelabuhan terlalu tinggi. 701 Dari Aceh pelayaran kemudian dilanjutkan dengan menyusuri pantai timur Sumatera, memasuki Selat Sunda dan dilanjutkan ke timur menyusuri pantai utara Jawa, Nusa Tenggara. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa selama beberapa abad, kawasan Nusa Tenggara sering dikunjungi para pedagang dari berbagai wilayali Nusantara dan dari berbagai negara. Hal itu selain letaknya yang strategis pada lintas pelayaran-perdagangan rempahrempah, juga kar.ena kawasan Nusa Tenggara memiliki produk-produk andalan seperti kayu cendana dari pulau Timar dan Sumbawa; kayu dye ( kayu celup ) dari Sumbawa;( Bima ); belerang dari Solar dan Flores: budak dari Bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan Timar. Menurut sumber VOC, dari 10.000 budak yang dibawa ke Batavia selama dua dekade 1661--1682), 24% di antaranya berasal dari Bali.
Demikian juga halnya dengan budak-budak Indonesia di pelabuhan-. pelabuhan VOC di tempat-tempat lain di Nusantara dan Semenanjung Harapan ( Afrika ) selama dekade terakhir abad ke-17, budak-budak yang berasal dari Bali menempati jumlah nomor dua setelah budakbudak dari Sulawesi. Berkembangnya perdagangan budak di kawasan
Nusa Tenggara antara lain disebabkan meluasnya praktek penculikan. Kayu cendana telah lama menjadi incaran pedagang-pedagang Cendana dan Portugis. Menurut Tome Pires, 1 kayu sandal (cendana) banyak terdapat dihutan-hutan di Pulau Timar dan Sumba dan harganya murah; setiap tahun datang pedagang-pedagang dari Jawa dan Malaka membeli kayu cendana untuk dijual ke Malaka karena
kayu ini ini dipergunakan oleh semua bangsa. Di India kayu cendana dipergunakan sebagai obat, parfum dan berperan penting dalam upacara-upacara kremasi dan upacara korban, sedangkan di Eropa dipergunakan sebagai ramuan obat oleh para apoteker.Kayu dye ( kayu celup ) yang merupakan produk andalan Sumbawa ( Bima ) di jual ke Malaka dan dari sana kemudian diepkspor ke Cina; demikin juga dengan belerang yang berasal dari Solar dan Flores diekspor ke Cochin-Cina melalui Malaka. Produk-produk dari Nusa Tenggara ini pada umumnya dapat diperoleh secara barter derigan kain dari Gujarat, barang-barang dari logam ( pedang, pisau, kapak dan paku), manikmanik, timah dan porselin.
Meskipun penduduk Nusa Tenggarajuga telah berlayar dengan perahu-perahu berukuran kecil ke beberapa tempat di pantai utara Jawa membawa budak, kuda dan beras untuk dijual, namun mereka belum sampai ke Malaka. Karena itu pedagangpedagang dari Malaka yang datang membeli produk dari Nusa Tenggara . Selain menghasilkan produk-produk andalan yang sangat dibutuhkan dan laku dipasaran, menurut Tome Pires di kawasan Nusa Tenggara terdapat pelabuhan-pelabuhan alam yang baik untuk lepas sauh, air bersih berlimpah-limpah dan suplay makanan cukup bagi pedagang-pedagang Melayu dan Jawa yang beristirahat dalam perjalanan mereka ke Maluku. Dalam konteks seperti inilah Sima harus ditempatkan karena Sima merupakan bagian dari sistem dan jalur pelayaran-perdagangan yang ada pada waktu itu, dimana ia ikut berperan.
Bima sebagai kerajaan atau sebagai salah satu bandar dalam lintas pelayaran-perdagangan dari Malaka ke Maluku atau sebaliknya menjadi penting artinya baik sebagai tempat singgah (istirahat) maupun sebagai tempat aktivitas perdagangan. Sebagai bandar, Sima terletak pada pada sebuah teluk (Teluk Bima) yang terlindung oleh perbukitan di sekitarnya. Oleh karena itu kapal-kapal yang singgah atau lepas sauh aman dari hempasan gelombang, baik pada waktu Angin muson bertiup dari barat (barat laut) maupun dari timur (tenggara). Namun selain posisi geografis dan fisiografisnya, Sima berkembang sebagai kota bandar atau pusat kerajaan didukung pula oleh sumber daya yang dimilikinya maupun sumber daya dari daerah sekitamya. Di sini tersedia cukup air bersih, bahan makanan, daging dan ikan yang dapat diperoleh dengan murah sebagai bekal melanjutkan pelayaran. Sebagai tempat aktivitas perdagangan, Sima dan daerah sekitarnya menghasilkan produk atau komoditi tertentu seperti kain kasar, budak, kuda, kayu dye (kayu celup) dan hasil bumi lainnya seperti kacang-kacangan dan beras (padi). Menurut Tome Pires, pedagang-pedagang dari Jawa dan Malaka yang pergi ke Banda dan Maluku singgah di Bima untuk menjual barang-barang yang dibawanya dari Jawa dan menbeli kain kasar untuk dijual di Maluku dan Banda; demikian juga budak dan kuda dibawa dan dijual ke Jawa. Budak selain dari pulau Sumbawa didatangkan juga dari Manggarai (Flores Barat) dan pulau Solor yang pada waktu itu (abad ke 17-18) menjadi wilayah kerajaan Bima. Seperti telah disinggung di atas, kayu dye (kayu celup) dari Bima dijual ke Mataka, kemudian dari sana diekspor ke Cina karena permintaan cukup banyak. meskipun kwalitas kayu dye dari Bima lebih rendah dibandingkan dengan yang berasal dari Siam. Hasil bumi terutarna beras banyak yang dibawa (dijual) ke Jawa, bahkan menurut sumber VOe secara berkala kapal-kapal voe datang di Bima untuk membcli beras. Kapal-kapal yang datang maupun yang herangkat ke dan dari Bima selalu mengikuti angin muson . Pada saat angin muson barat (barat laut) di pclabuhan Bima berdatangan kapal-kapal dari arah bara t seperti Sumbawa. Lombok, Bali, Jawa dan Mataka sedangkan dari Bi ma berangkat kapal-kapal yang berlayar ke arah timur dan utara seperti kc Selayar, Sulawesi, Flores, Solor. Buton Ambon. Banda dan MaLuku . Sebalikn ya pada saat angin muSon timur (tenggara) berdatangan kapal-kapal dari arah ti mur a tau utara dan berangkat kapal-kapal yang menuju ke arah barat. Kalau dianalogikan dengan keadaan pada permulaan abad ke-19 sesuai dengan data yang dikumpulkan oleh Zollinger,ternyata jumlah kapal yang datang maupun yang berangkat ke dan dari pelabuhan Bima selama angin muson timur (Mei - Oktober) hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kapal yang datang dan berangkat ke dan dari pelabuhan Bima pada saat angin muson barat atau barat laut (Nopember - April). Selain itu perlu diketahui bahwa Sape merupakan pelabuhan yang cukup penting di pantai timur (di Selat Sape), sehingga pelabuhan ini merupakan pintu masuk dari pantai timur. Dalam sumber lokal disebutkan bahwa Dato ri Tiro ketika datang ke Bima mendarat melalui pelabuhan Sape; demikian juga ketika sekelompok bajak taut menyerang Bima mendarat melalui pelabuhan yang sama. 781 Posisi Bima dalam lintas pelayaran-perdagangan antara MalakaMaluku atau sebaliknya serta keterlibatannya dalam aktivitas perdagangan mendorong munculnya Bima sebagai kota bandar maupun sebagai kota pusat kerajaan yang terpenting di kawasan Nusa Tenggara, sekaligus mempercepat proses lslamisasi dan munculnya Bima sebagai kerajaan Islam. Dengan kata lain proses lslamisasi di daerah Bima dan sekitarnya erat kaitannya serta diDorong oleh keterl ibatan Bi ma dalam perdagangan regional maupun internasional
yang pada waktu itu telah didominasi t>loh pelaut-pclaut dan pcdagangpcdagang muslim . Dampak pcrdagangan ini sangat besar bagi Pertumbuhan dan perkcmbangan Birna baik sebagai kola bandar maupun kota pusat pemerintahan karcna perniagaan dapat memacu pertumbuhan ncgara (kerajaan) atau kota-kota di daerah pantai. Dalam perdagangan penguasa akan mendapatkan income dari pajak (pajak pelahuhan dan pajak perdagangan) dan sebagian dari income tersebut dipergunakan untuk membangun kota maupun kerajaan (negara) dalam arti yang seluas-luasnya.
Setelah Bima muncul sebagai kerajaan Islam datanglah para ulama dan muballig Islam dari berbagai daerah maupun dari mancanegara seperti Syeh Umar Al Bantami, ulama Arab yang datang dari Banten ; Dato ri Bandang dan Dato ri Tiro masing-masing berasal dari Minangkabau dan Aceh yang datang Dari Makassar; Kadhi Jalaludin dan Syeh Umar Bamahsun, keduanya dari Arab. Mereka datang ke Bima untuk mcnyebarkan agama Islam atau karena sengaja diundang oleh penguasa (sultan) menjadi guru sultan dan keluarganya, kemudian diangkat menjadi mufti (penasehat) kerajaan. Seiring dengan berkembangan Bima sebagai kota bandar dan kota pusat pemerintahan, maka heterogenitas penduduknyapun semakin tinggi. Di Bima berdatangan para pedagang dari berbagai daerah dan berbagai bangsa, sebagian di antaranya tinggal menetap dan membangun perkampungan mereka menurut kelompok etnis maupun profesi. Dalam laporan perjalanannya. Zollinger79 menyebutkan namanama kampung seperti kampung Bugis, kampung Melayu dan kampung Walanda. Meskipun data itu menggambarkan situasi pada awal abad ke-19, ada kemungkinan bahwa heterogenitas penduduk Bima sudah mulai berlangsung sejak abad ke- l 7 atau 18.
