USM7uKzrSsmCaVoTHNCgNHTLw5k8mZOpxmzx7nna
Bookmark

Perjalanan Datuk ri Bandang

Pada tahun 1605, Datuk ri Bandang tiba di pelabuhan Tallo bersama dua ulama: Sulaiman Khatib Sulung Datuk di Pattimang (penyiar Islam di Luwu) dan Abdul Jawad Khatib Bungsu Datuk ri Tiro (penyiar Islam di Bulukumba). Pada awalnya, mereka gagal meyakinkan Raja Tallo Karaeng Matowaya untuk menganut Islam karena berbagai alasan, termasuk keberadaan dan peran orang-orang Katolik Portugis di Makassar. Oleh karena itu, tiga ulama tersebut berlayar ke Luwu karena menurut tradisi lisan lokal bahwa alebbiremmani engka ri Luwu, awatangeng engkai ri Gowa (hanya kemuliaan ada di Luwu, sedangkan kekuatan ada di Gowa). Di sana, berkat upaya Datuk ri Pattimang, mereka berhasil mengislamkan La Patiware Daeng Parebung. sementara Datuk ri Tiro mengubah agama Raja Tiro La Unru Daeng Biasa menjadi Islam, dan Datuk ri Bandang kembali ke Makassar. Dia berhasil meyakinkan raja Tallo dan raja Gowa untuk berislam pada 22 September 1605 setelah keduanya diislamkan. Raja Tallo diberi nama Sultan Abdullah Awwalul Islam, dan Sultan Alauddin adalah nama Raja Gowa. Dialog spiritual antara ulama dan raja dimulai sebelum dua penguasa "kembar" Makassar memeluk Islam. Menurut tradisi lisan Makassar, raja Tallo segera menuju pantai setelah mengetahui kedatangan Datuk ri Bandang. Di depan gapura istana Tallo, raja bertemu dengan seorang pria bersurban selama perjalanannya. Orang itu menulis kalimat dalam aksara dan bahasa Arab yang tidak dipahami oleh raja, dan dia meminta orang suci yang akan ditemuinya untuk melihat tulisan itu. Pria itu kemudian pergi, dan raja pergi ke pantai. Raja mengikuti perintah orang itu. Datuk ri Bandang mengatakan bahwa orang yang menulis kalimat tersebut adalah representasi Nabi Muhammad, yang dalam bahasa Makassar disebut Makasaraki nabbi Muhamma, setelah melihat tulisan di tapak tangan raja (Mattulada, 1976:10). Tentu saja raja sangat tersanjung secara spiritual karena bertemu dengan Nabi adalah titik awal pengislamannya. Datuk ri Bandang menggunakan peristiwa itu untuk meyakinkan raja tentang kemuliaan Islam yang dia dakwahkan. Dibandingkan dengan proses pengislaman dua penguasa sebelumnya, Datuk ri Pattimang dan Datuk ri Tiro, pengislaman raja Tallo mengandung nilai spiritualitas yang tinggi. Datuk ri Luwu menggunakan pendekatan Tauhid dengan berbicara dengan penguasa Luwu di tempat terbuka, disaksikan oleh penduduk lokal, dan Datuk ri Tiro menggunakan pendekatan tasawwuf (kebatinan) dengan mengadu kesaktian di tempat umum antara raja dan ulama. Meskipun demikian, raja Tallo diyakinkan oleh Datuk ri Bandang bahwa Nabi Muhammad telah mengislamkan dirinya sebelum bertemu dengannya. Pendekatan di atas menunjukkan spiritualitas lebih "tinggi" raja Tallo; berbeda dengan dua penguasa lain yang hanya bertemu dengan ulama, raja Tallo bertemu dengan Nabi dan ulama. Frase "Kekuasaan ada di Makassar" semakin mengukuhkan kekuatan politik Makassar. Pada tahun 1607–1611, Sultan Alauddin dan Sultan Abdullah, penguasa Makassar, menyebarkan agama Islam ke seluruh Sulawesi Selatan, kecuali Toraja. Perang ini disebut oleh orang Bugis sebagai Musu Asellengeng atau Perang Pengislaman (Patunru, 1983: 20). Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro, atas perintah Sultan Alauddin, berdakwah ke Bima, Nusa Tenggara Barat, setelah mengislamkan Sulawesi Selatan. Secara politik, Makassar menguasai Kerajaan Bima, yang ditaklukkan pada 1618 dan 1619. Oleh karena itu, ulama lebih mudah menyebarkan agama itu kepada Raja Bima La Kai pada 7 Februari 1621. Setelah menganut agama Islam, dia diberi gelar Sultan Abdul Khair (1620–1640). Hubungan Sultan Alauddin dengan Sultan Bima semakin erat setelah dia menikahkan iparnya. Namun, beberapa orang menentang langlah itu. Pada tahun 1632, mereka bertempur di bawah pimpinan Raja Dompu. Armada Makassar, yang terdiri dari ribuan orang dan 400 perahu, menghancurkan perlawanan itu. Dengan demikian, La Kai kembali bertahta di Kesultanan Bima. Sultan Alauddin memanggil kembali Datuk ri Bandang dan Datuk ri Tiro ke Makassar untuk berdakwah. Sultan Bima kedua, Abi'l Khair Sirajuddin (1640–1682), memberikan orang Melayu hak istimewa sebagai guru agama bagi raja dan rakyat Bima. Menurut uraian di atas, Datuk ri Bandang sangat mahir dalam berkomunikasi dengan penguasa Makassar dengan cara bersilat lidah. Menyiarkan agama Islam di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat memberinya legitimasi politik. Ini adalah kontribusi penting yang dibuat oleh ulama Melayu-Minangkabau dalam Sejarah Islam Indonesia.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar